Performa Florian Wirtz bersama Liverpool kembali menjadi sorotan setelah ia ditarik keluar saat timnya kalah 3-0 dari Manchester City. Gelandang serang asal Jerman itu belum juga menemukan konsistensi sejak didatangkan dengan harga selangit, dan kini pertanyaan serius muncul: apakah sudah waktunya ia dicadangkan? Tekanan terhadap Wirtz makin besar karena ekspektasi yang menyertainya sejak hari pertama menginjakkan kaki di Anfield belum juga terbayar.

Wirtz didatangkan Liverpool sebagai salah satu rekrutan termahal dalam sejarah klub, dengan nilai transfer £116 juta. Namun lebih dari setahun setelah kedatangannya, kerja sama antara sang pemain dan klub masih belum menemukan titik nyala. Situasi ini diperparah oleh kenyataan bahwa Rayan Cherki, pemain yang sempat masuk daftar incaran Liverpool, justru bersinar bersama Manchester City dengan harga yang jauh lebih murah.
Performa Florian Wirtz yang Masih Jauh dari Ekspektasi
Sejak bergabung, Florian Wirtz telah mencatatkan 56 penampilan bersama Liverpool dengan torehan tujuh gol dan 11 assist. Statistik itu sekilas terlihat tidak buruk, tetapi ada catatan penting yang menyertainya. Pada musim lalu, ia sama sekali tidak terlibat dalam gol ketika Liverpool menghadapi tim-tim penghuni 10 besar Premier League, sehingga kontribusinya lebih banyak muncul di laga-laga yang tekanannya relatif lebih ringan.
Pada musim ini, Wirtz selalu menjadi starter di setiap pertandingan Premier League dan Liga Champions. Meski begitu, ia baru mengoleksi satu assist dari tujuh laga yang sudah dijalani. Angka tersebut jelas belum mencerminkan statusnya sebagai salah satu gelandang serang paling diincar di Eropa sebelum kepindahannya ke Anfield.
Puncak dari kesulitan itu terlihat pada laga melawan Manchester City akhir pekan lalu. Pelatih baru Liverpool, Andoni Iraola, menarik Wirtz dan memasukkan Trey Nyoni pada menit ke-66, tidak lama setelah Ryan Gravenberch mendapat kartu merah dan Erling Haaland membuka keunggulan. Wirtz sendiri masih berusia 23 tahun, usia yang seharusnya masih menyisakan banyak ruang untuk berkembang dan berbenah.
Kronologi Transfer: Wirtz Jadi Target Utama Liverpool
Perburuan Liverpool terhadap seorang gelandang serang dimulai sejak akhir musim 2024-25. Saat itu, pelatih kepala Arne Slot terbang ke Prancis selatan untuk menjalin pembicaraan dengan Rayan Cherki. Nama Cherki memang masuk dalam daftar pendek Liverpool, tetapi target utama klub sebenarnya adalah Florian Wirtz.
Wirtz kala itu menjadi rebutan sejumlah klub besar. Bayern Munich dan Manchester City sama-sama menginginkannya, sehingga keputusan sang pemain menjadi penentu arah transfer. Ketika Wirtz menyatakan lebih memilih pindah ke Anfield dan bergabung dengan juara Premier League saat itu, transfer senilai £116 juta pun berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Pada masa itu, kedatangan Wirtz dianggap sebagai akuisisi berkualitas bagi Liverpool. Klub merasa mendapatkan salah satu talenta terbaik dunia pada usia yang masih sangat muda. Namun lebih dari setahun berselang, kerja sama itu masih belum berjalan sesuai rencana yang dibayangkan banyak pihak.
Bayangan Rayan Cherki di Manchester City
Perbandingan dengan Rayan Cherki menjadi salah satu alasan mengapa situasi Wirtz terasa semakin pelik. Pemain Prancis itu bergabung dengan Manchester City dari Lyon pada Juni 2025 dengan nilai transfer £30 juta, kurang dari sepertiga harga yang dibayarkan Liverpool untuk Wirtz.
Sejak tiba di City, Cherki telah mencatatkan 16 gol dan 18 assist dalam 65 penampilan. Ia juga berkali-kali menghadirkan momen yang mengubah jalannya pertandingan, sesuatu yang masih jarang diperlihatkan Wirtz. Fakta bahwa Cherki juga berusia 23 tahun, sama seperti Wirtz, menambah ironi ketika kedua pemain dibandingkan satu sama lain.
Cherki bahkan memberi sentuhan akhir manis pada kemenangan 3-0 City di Anfield dengan sebuah gol indah. Gol semacam itu sudah menjadi pemandangan yang lazim baginya sejak kepindahan dari Lyon. Sementara itu, penggemar Liverpool belum melihat cukup banyak momen penting seperti itu dari Wirtz.
Kritik Warnock dan Carragher untuk Wirtz
Kritik terhadap performa Wirtz datang dari sejumlah mantan pemain Liverpool. Bekas bek Liverpool, Steven Warnock, menilai Wirtz memiliki kemampuan luar biasa, tetapi belum cukup mengancam lawan. Menurutnya, Wirtz terlalu sering menghilang dari permainan meski sesekali tampil memukau.
“Wirtz punya banyak kemampuan. Saya berharap punya kemampuan itu karena dia begitu mengalir. Dia membuat segalanya tampak mudah, tetapi dia tidak melukai tim lawan,” ujar Warnock kepada BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan bahwa Wirtz kerap muncul selama 10 sampai 20 detik, lalu menghilang selama lima sampai 10 menit sehingga orang bertanya-tanya di mana posisinya kini.
Kritik senada datang dari Jamie Carragher. Setelah kekalahan Liverpool dari Manchester City, ia menyatakan sudah waktunya Iraola mencadangkan Wirtz. “Saya pikir dia perlu keluar dari tim. Saya sudah mengatakannya sebelumnya dan akan mengatakannya lagi,” ujar Carragher kepada Sky Sports.
Carragher menilai Liverpool bermain baik dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum kartu merah Gravenberch, tetapi tetap gagal menciptakan peluang. Menurutnya, itulah masalah nyata Liverpool dalam mencetak gol dan menciptakan peluang, yakni hal yang justru menjadi alasan klub mendatangkan Wirtz. Ia juga menilai Wirtz tidak memberi kontribusi, baik saat bertahan maupun saat menyerang.
Pembelaan Iraola, Klopp, dan Gerrard
Di tengah derasnya tekanan, Iraola memilih membela pemainnya. Ditanya pada Selasa apakah Wirtz butuh lebih banyak waktu, ia mengakui Wirtz mungkin tidak menampilkan permainan terbaiknya pada laga terakhir, tetapi juga telah tampil baik di sejumlah laga lain musim ini.
“Semua orang mulai mencari jawaban. Dia tampil baik bersama tim nasional, mencetak satu gol, dan dia akan menjalani laga yang lebih baik atau lebih buruk,” ujar Iraola. Ia menekankan keinginannya menilai situasi secara lebih kolektif dan tidak terlalu mempersoalkan siapa yang mencetak gol.
Dukungan juga datang dari Jurgen Klopp, yang kini menangani Wirtz di tim nasional Jerman. Menurutnya, pemain menyerang selalu membutuhkan tim yang berfungsi baik di sekitarnya. Klopp menegaskan siapa pun yang mencintai sepak bola tetap bisa melihat betapa luar biasanya kualitas Wirtz sebagai pemain.
Pandangan serupa diungkapkan Steven Gerrard. Ia membayangkan Wirtz begitu keras menghakimi dirinya sendiri atas awal kariernya di Liverpool. Gerrard menilai Wirtz adalah talenta besar dan telah melihat cukup banyak bukti untuk memberinya kesempatan, seraya menekankan bahwa pemain itu kini membutuhkan bantuan dan dukungan.
Ada pula data yang memperkuat argumen bahwa Wirtz sebenarnya tetap berkontribusi. Musim lalu ia menciptakan 95 peluang dari permainan terbuka di semua kompetisi, setidaknya 27 lebih banyak dari pemain Liverpool lainnya. Umpan tajamnya yang berujung gol penyama kedudukan Victor Munoz melawan Nottingham Forest pada Agustus menjadi salah satu contoh kelas yang ia miliki.
Pilihan Sulit Iraola dan Konteks Lebih Luas
Mencadangkan Wirtz bukanlah keputusan yang mudah diambil. Alexander Isak, Cody Gakpo, dan Dominik Szoboszlai semuanya sedang absen, sehingga opsi di lini serang Liverpool menjadi terbatas. Di sisi lain, Liverpool akan menjalani dua pertandingan setiap pekan hingga jeda internasional November, sehingga rotasi pemain menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan.
Dengan Gravenberch yang diskors untuk lawatan ke Brentford pada Sabtu, Iraola kemungkinan tetap memainkan gelandang Belanda itu pada laga Liga Champions melawan LASK di Austria pada Rabu, sekaligus memberi kesempatan start kepada Nyoni. Perubahan lain juga diperkirakan terjadi menyusul kekalahan dari Manchester City. Semua ini membuat lini tengah Liverpool berada dalam kondisi yang menuntut penyesuaian cepat.
Wirtz sendiri mengakui masih beradaptasi dengan intensitas kompetisi tertinggi. Penampilan terbaiknya musim ini terjadi di Liga Champions melawan Atletico Madrid, saat ia kurang beruntung tidak mencatatkan assist karena Bradley Barcola melebar dari sasaran. Pada laga melawan City, ada momen ketika skor masih 0-0 dan Wirtz melepaskan tembakan melebar, padahal Barcola dan Milos Kerkez berada dalam posisi bebas di sebelah kirinya—sebuah keputusan buruk dari pemain yang tengah mendambakan momen besar.
Pada Agustus, Wirtz mengaku merasa lebih siap untuk musim keduanya di Anfield. Aspek fisik menjadi fokus utama pada musim pertamanya, dan ia menilai kini lebih memahami bagaimana sepak bola Premier League dimainkan. Ia tampil mengesankan di pramusim, tetapi dua bulan setelah musim baru berjalan, Wirtz dituntut segera menuntaskan ekspektasi, bukan menunggu lebih lama lagi.
Situasi Florian Wirtz di Liverpool kini berada di persimpangan. Di satu sisi, ia masih muda, mendapat dukungan sejumlah nama besar, dan data menunjukkan kontribusi nyata dalam menciptakan peluang. Di sisi lain, hasil di lapangan belum sepadan dengan harga mahal dan ekspektasi yang membebani pundaknya setiap pekan.
Pertandingan-pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika Wirtz belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, Iraola akan dihadapkan pada keputusan berat: terus memberinya kepercayaan atau sementara mencadangkannya demi hasil tim. Apa pun pilihan yang diambil, jawabannya hanya bisa dibuktikan di lapangan.