Shola Ameobi dan Jalan Baru di Kursi Eksekutif Newcastle

Shola Ameobi kini memegang peran baru sebagai kepala urusan korporat Newcastle United sejak Juli, setelah tujuh tahun menjabat koordinator pinjaman. Mantan penyerang yang mencetak 79 gol dalam 397 penampilan untuk klub itu sekarang bertanggung jawab memastikan Newcastle memberi manfaat bukan hanya bagi tim, tetapi juga bagi kota dan wilayah sekitarnya. Peralihan ini menandai babak berbeda dalam perjalanan panjangnya bersama klub yang sudah ia kenal sejak kecil.

Shola Ameobi

Langkah Ameobi ke jajaran eksekutif bukan keputusan mendadak. Ia tumbuh di Newcastle setelah pindah dari Nigeria pada usia enam tahun, dan pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang klub, kota, serta arti representasi. Selain itu, ia telah terlibat dalam kelompok penasihat peserta kulit hitam Premier League sejak kelompok itu dibentuk pada 2019, sehingga wawasan soal kepemimpinan dan inklusi sudah lama ia bangun.

Peran Baru Shola Ameobi di Newcastle United

Dalam posisi sebagai kepala urusan korporat, Ameobi menyebut tujuannya adalah memastikan klub melakukan hal-hal yang bernilai bagi Newcastle United sekaligus bagi kawasan. Ia ingin klub menjadi jantung kota, dan menurutnya itu hanya bisa terwujud bila klub terintegrasi dengan kehidupan warga. Integrasi itu mencakup urusan kewargaan, kegiatan olahraga, maupun keterlibatan komunitas.

Perpindahan Ameobi terjadi setelah CEO David Hopkinson menjalankan tinjauan 100 hari. Pada akhir diskusi awal, Hopkinson meminta Ameobi mempertimbangkan tawaran itu selama akhir pekan. Ameobi menghargai kepercayaan dan komitmen yang ditunjukkan, tetapi ia memilih menahan diri agar bisa memahami bagaimana peran tersebut akan berjalan dalam praktik. Setelah sekitar enam bulan dan banyak pembicaraan, ia akhirnya menerima posisi itu.

Bagi Ameobi, masuk ke kursi eksekutif tidak sebesar yang mungkin terlihat dari luar. Ia memulai peran sebelumnya pada era Mike Ashley dan membangun departemen tersebut dari nol. Pengalaman itu, menurutnya, membantunya memahami cara membuat perencanaan bisnis dan menyusun tim.

Pengalaman Rasisme yang Membentuk Karakter Shola Ameobi

Ameobi tidak melupakan masa kecilnya di Newcastle pada akhir 1980-an dan 1990-an. Ia pernah merasa takut bagi keselamatannya ketika diburu dan diganggu oleh kelompok orang yang tidak menyukainya karena penampilannya. Ada masa ketika ia harus berlari kencang untuk menjauh dari sekelompok pemuda, dan pengalaman semacam itu bukan hal langka dalam hidupnya.

Ia menggambarkan masa itu sebagai periode ketika ia hampir harus menyembunyikan diri agar bisa melakukan hal yang ia cintai. Rasa khawatir saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain menjadi bagian dari kesehariannya. Ia harus lebih waspada terhadap lingkungan sekitar dan apa yang sedang ia lakukan.

Rumah keluarga Ameobi sering menjadi titik awal, letaknya hanya beberapa panjang lapangan dari St James’ Park. Tujuan berikutnya biasanya markas klub di Benwell, tempat ia menuju sesi latihan akademi. Dari pengalaman itu, ia merasa terbentuk ketahanan luar biasa yang membantunya di dunia olahraga dan sebagai pribadi. Ia belajar bahwa yang paling penting bukanlah penilaian orang lain, melainkan nilai yang ia berikan pada dirinya sendiri.

Dari Pemain ke Eksekutif: Titik Balik di Tengah Cedera

Anak muda yang pernah berlari karena takut itu kemudian menjadi pencetak 79 gol dalam 397 pertandingan Newcastle, termasuk tujuh gol ke gawang rival lokal, Sunderland. Menariknya, sebagian orang yang dulu ia hindari kemungkinan belakangan ikut mendukungnya ketika ia mengenakan pakaian tim. Perjalanan itu menunjukkan bagaimana penerimaan bisa berubah, meski bekas pengalaman buruk tetap membekas.

Pemikiran Ameobi tentang hidup di luar lapangan mulai muncul setelah ia mengalami cedera pinggul selama beberapa tahun. Pada November 2006, ia menjalani operasi yang menyelamatkan kariernya. Masa pemulihan menjadi awal proses berpikirnya tentang peran di luar sepak bola, karena ia tidak tahu apakah bisa kembali bermain pada level sebelumnya atau bermain lagi sama sekali.

Dalam masa sulit itu, Ameobi bertanya pada dirinya sendiri bagaimana ia bisa paling berguna bagi rekan setim dan klub. Pertanyaan tersebut menjadi titik ketika roda pemikirannya mulai berputar. Ia menyadari sepak bola tidak akan selalu ada, sehingga ia harus menjawab pertanyaan sulit tentang siapa dirinya di luar status sebagai pesepak bola. Ia melewati beberapa momen gelap dengan bantuan psikolog dan dukungan keluarga.

Pengaruh Keluarga, Pelatih, dan Program Kepemimpinan

Ameobi mengaku sudah lama tertarik pada kepemimpinan. Ayahnya adalah pemimpin sebuah gereja dan menjadi sosok paling berpengaruh dalam cara ia memahami kepemimpinan serta cara memimpin dengan baik. Dalam sepak bola, ia menyebut Sir Bobby Robson, yang memberinya debut profesional pada usia 18 tahun, sebagai pengaruh besar. Menurut Ameobi, Robson masih memengaruhi cara ia memandang permainan dan memandang manusia, bukan sekadar apa yang sedang dikerjakan.

Ia juga menyebut Alan Pardew, yang pernah melatihnya di Newcastle dan Crystal Palace, sebagai figur penting. Pardew memanfaatkan kemampuan Ameobi untuk menyalurkan kepemimpinan di ruang ganti dan skuad yang lebih luas. Peran itu membantu pelatih menghadapi sejumlah persoalan yang sedang dialami tim.

Ameobi memiliki gelar master di bidang kepemimpinan strategis. Ia juga menjadi bagian dari kelompok penasihat peserta kulit hitam Premier League sejak 2019. Kelompok itu antara lain mendorong penerapan rencana aksi No Room for Racism pada 2021 dan peluncuran percontohan skema jalur pemain ke eksekutif pada 2022, yang dirancang membantu kelompok kurang terwakili masuk ke peran eksekutif. Ameobi termasuk dalam tujuh orang pada angkatan pertama program tersebut.

Dampak bagi Newcastle dan Representasi Generasi Berikutnya

Program itu, menurut Ameobi, memberinya kerangka berpikir yang berguna. Ia diperkenalkan pada gambaran umum berbagai alur kerja eksekutif, seperti keuangan, merek, masa depan dunia kerja, dan cara organisasi beroperasi. Hal itu memberinya kepercayaan diri bahwa banyak hal yang sudah ia lakukan bisa diterjemahkan ke dunia tersebut.

Salah satu pelajaran terbesar baginya adalah bekerja di lingkungan bertekanan, sesuatu yang sudah ia jalani selama 20 tahun. Ia melihat pengalaman itu berguna ketika keadaan menjadi tidak sesuai rencana. Kemampuan bertahan dalam situasi sulit menjadi bekal penting saat ia harus mengambil keputusan di luar lapangan.

Ameobi juga hadir dalam acara untuk merayakan kelompok pendukung The Black Geordie Club. Dalam kesempatan itu terlihat bahwa ia mudah bergaul dan membawa kehangatan yang membuat orang lain nyaman. Ia gigih ingin memakai posisinya untuk memperbaiki masyarakat, dan ia ingin menunjukkan bahwa jalan dari tim muda ke tim utama lalu ke peran eksekutif bisa ditempuh oleh orang seperti dirinya.

Ia tumbuh dengan menonton Andy Cole di Newcastle, dan mengenang hat-trick Tino Asprilla di Liga Champions 1997 melawan Barcelona sebagai momen ketika waktu seolah berhenti. Kenangan itu membuatnya sadar betapa pentingnya merasa memiliki dan melihat diri sendiri di tempat yang ingin dituju. Menurut Ameobi, hal itu sangat penting bagi inspirasi orang-orang yang bercita-cita besar di bidang apa pun.

Konteks Lebih Luas: Klub, Kota, dan Jalur Karier Baru

Peran Ameobi menunjukkan bahwa mantan pemain bisa mengambil jalur karier lain tanpa meninggalkan dunia sepak bola. Pengalaman membangun departemen pinjaman dari nol, terlibat dalam program kepemimpinan, dan memahami tekanan pertandingan menjadi kombinasi yang relevan untuk pekerjaan eksekutif. Ini juga memperlihatkan bahwa klub seperti Newcastle perlu menempatkan orang yang memahami kota dan komunitasnya, bukan hanya urusan teknis di lapangan.

Di sisi lain, kisah Ameobi menyoroti pentingnya representasi di ruang pengambilan keputusan. Ia ingin menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya dan menunjukkan bahwa kerja keras bisa membuka jalan, terlepas dari penampilan atau asal-usul seseorang. Bagi Newcastle, arah ini sejalan dengan upaya menjadikan klub sebagai bagian dari kehidupan kota, sementara bagi Premier League, ceritanya menjadi contoh bagaimana program inklusi bisa berujung pada perubahan nyata di struktur organisasi.

Perjalanan Shola Ameobi memperlihatkan pergeseran dari pesepak bola menjadi eksekutif yang tetap dekat dengan akar komunitasnya. Ia membawa pengalaman masa kecil yang pahit, karier panjang di Newcastle, dan pembelajaran dari cedera serta program kepemimpinan ke dalam peran barunya. Fokusnya kini adalah memastikan klub memberi dampak yang lebih luas bagi kota dan warganya.

Dengan posisi yang ia pegang, Ameobi tidak hanya melanjutkan karier di dunia yang ia kenal, tetapi juga membuka percakapan tentang representasi dan peluang. Kisahnya menunjukkan bahwa ketahanan yang terbentuk dari pengalaman sulit bisa menjadi modal untuk memimpin. Pengalaman itu menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab baru dengan perspektif yang lebih luas, terutama dalam menghubungkan klub dengan kota dan warganya.