Situs berita bola

Alkohol di Stadion Sepak Bola, Perlukah Aturannya Dicabut?

Poland's players and fans sing the Polish national anthem ahead of the Qatar 2022 World Cup round of 16 football match between France and Poland at the Al-Thumama Stadium in Doha on December 4, 2022. (Photo by JAVIER SORIANO / AFP)

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham kembali menegaskan pandangannya bahwa larangan bagi suporter sepak bola untuk menikmati alkohol di kursi stadion sudah ketinggalan zaman. Pernyataan itu muncul ketika ia ditanya soal kebiasaan minum bir di pertandingan sepak bola, topik yang tampaknya tak ia duga bakal mencuat dalam kunjungannya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Posisi Burnham bukan hal baru. Sebagai pendukung Everton, ia sudah lama menyuarakan hal yang sama: menurutnya, penggemar sepak bola diperlakukan berbeda dibanding penonton cabang olahraga atau acara hiburan lain. “Saya yakin ada alasan untuk menghapus diskriminasi itu,” ujarnya. Meski begitu, belum ada tanda bahwa wacana ini akan segera menjadi kebijakan resmi pemerintah.

Isu ini sebenarnya sudah lama mengendap. Tahun lalu, anggota parlemen menolak amandemen dari Partai Konservatif terhadap Football Governance Bill yang akan memaksa para menteri membuka konsultasi formal soal pencabutan aturan tersebut. Amandemen itu diajukan sebelum Burnham kembali ke Downing Street, sehingga situasi politiknya kini berbeda.

Apa Isi Aturan Minum Alkohol di Stadion Sepak Bola?

Di Inggris dan Wales, konsumsi alkohol di stadion sepak bola dikontrol ketat sejak Sporting Events Control of Alcohol Act diperkenalkan pada 1985. Aturan ini berlaku bagi klub dari Premier League hingga National League. Bir memang boleh dijual, tetapi wajib dihabiskan di area yang tidak memiliki pandangan langsung ke lapangan.

Yang menarik, pembatasan ini tidak berlaku seragam di seluruh piramida kompetisi. Suporter klub di National League North dan South ke bawah justru diizinkan minum alkohol di sekitar lapangan. Sementara di Skotlandia, aturannya lebih ketat lagi: sejak 1981, alkohol hanya tersedia di area hospitality dan tidak untuk suporter biasa.

Kondisi inilah yang membuat sepak bola menjadi satu-satunya cabang olahraga di Inggris yang menghadapi pembatasan konsumsi alkohol bagi penontonnya. Sejumlah olahraga lain memang punya persoalan terkait alkohol dan perilaku antisosial, tetapi tak satu pun menyandang reputasi sekuat sepak bola dalam hal tersebut.

Latar Belakang: Hooliganisme yang Melahirkan Larangan

Undang-undang 1985 lahir sebagai respons terhadap hooliganisme yang meningkat sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an. Pemerintah saat itu menilai pembatasan alkohol sebagai salah satu cara meredam kekacauan yang kerap mewarnai pertandingan. Sejak itu, aturan ini melekat erat pada budaya menonton sepak bola di Inggris dan Wales.

Skotlandia menerapkan larangannya lebih awal, yakni pada 1981. Aturan itu diberlakukan setelah terjadi kerusuhan dalam final Piala Skotlandia 1980 antara Rangers dan Celtic di Hampden. Sejak peristiwa itu, alkohol di stadion sepak bola Skotlandia praktis hanya tersedia di area khusus.

Namun, sikap terhadap aturan ini mulai bergeser dalam beberapa musim terakhir. Pelonggaran diuji coba, dan sejumlah klub Skotlandia kini menjual alkohol di area stadion yang ditentukan serta diawasi secara ketat. Uji coba itu dimulai dari klub-klub level bawah dan perlahan diperluas hingga ke Premiership.

Uji Coba di Skotlandia dan Sepak Bola Putri Inggris

Tim nasional Skotlandia turut bergabung dalam uji coba tersebut pada laga persahabatan melawan Jepang dan Curacao awal tahun ini. Skema serupa kemudian diperluas ke pertandingan melawan Swiss pada 29 September dan Slovenia bulan berikutnya. Artinya, pengalaman menikmati alkohol di stadion tak lagi terbatas pada level klub.

Perkembangan tak kalah penting terjadi di Inggris. Women’s Super League baru saja menuntaskan dua musim uji coba yang dinilai sukses, dan aturan yang melarang minum di tribun kini telah dicabut oleh WSL Football selaku badan pengelola kompetisi. Sepak bola putri tidak tunduk pada Sporting Events Control of Alcohol Act, sehingga penyelenggara kompetisi punya keleluasaan mengubah aturan sendiri.

Langkah WSL itu menjadi preseden yang sulit diabaikan. Ia menunjukkan bahwa uji coba di tribun dapat berjalan sukses, setidaknya pada konteks kompetisi tersebut, dan membuka pertanyaan mengapa perlakuan serupa tidak bisa diterapkan di sepak bola putra.

Sikap Liga, Klub, dan Kepolisian

Di dalam sepak bola Inggris sendiri, dukungan terhadap perubahan belum seragam. Chief Executive Premier League Richard Masters pada Agustus menyatakan kompetisi belum “memiliki pandangan spesifik” dan bahwa persoalan ini “perlu dipikirkan dengan sangat hati-hati”. Pernyataan itu menunjukkan Premier League memilih menunggu perkembangan sebelum menentukan sikap resmi.

Berbeda dengan itu, English Football League menyatakan terbuka untuk mendiskusikan peninjauan legislasi yang berlaku. Dalam pernyataannya, EFL menyebut klub-klub anggotanya telah memberikan mandat untuk melobi reformasi yang sesuai. Alasannya, aturan saat ini dinilai “tidak mengikuti perkembangan signifikan dalam manajemen stadion, keamanan, dan pengelolaan penonton”.

Asosiasi Suporter Sepak Bola (FSA) malah sudah lama mendukung perubahan. Ketua FSA Tom Greatrex menyebut aturan ini “usang” dan menilai tidak ada alasan mengapa suporter sepak bola diperlakukan berbeda dari penonton rugby league, konser Oasis, atau acara lain yang sering digelar di stadion serta kursi yang sama. Posisi FSA sederhana: klub sebaiknya diberi pilihan, tentu setelah berkonsultasi dengan suporter.

Pilihan itu bisa beragam bentuknya. Ada klub yang mungkin ingin menyediakan alkohol di seluruh tribun, ada yang membatasinya di area tertentu, dan ada pula yang memilih tidak menyediakannya sama sekali. Olahraga lain bahkan mengenal seksi bebas alkohol — sesuatu yang bisa ditiru klub sepak bola untuk keluarga dan suporter yang tidak mengonsumsi alkohol karena alasan agama. FSA mengakui hal itu, tetapi menekankan pentingnya memiliki opsi untuk mengambil keputusan semacam itu.

FSA juga menilai pelonggaran aturan akan lebih populer di liga-liga bawah, tempat penjualan alkohol berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan yang cukup penting bagi klub. Semakin jauh dari kompetisi papan atas, semakin besar pula arti pemasukan tambahan bagi keberlangsungan sebuah klub. Karena itu, perubahan aturan diyakini lebih mudah diterima di level tersebut.

Di sisi lain, Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris menolak gagasan tersebut. Mereka berargumen alkohol berperan besar dalam perilaku kekerasan dan tidak tertib, serta menegaskan bahwa cabang olahraga lain “tidak melihat kekerasan dan perilaku kriminal” seperti yang terjadi di sepak bola. Pandangan ini menempatkan kepolisian berseberangan langsung dengan FSA dan EFL.

Greatrex tidak menerima dalih itu. Menurutnya, polisi sudah pernah menutup pintu terhadap gagasan baru, persis seperti saat mereka menentang safe standing. Sebelum kebijakan itu diperkenalkan empat tahun lalu, Mark Roberts, yang menjabat sebagai pemimpin nasional kepolisian sepak bola sejak 2014, pernah mengatakan kepada BBC bahwa standing akan mempermudah pelemparan misil, nyanyian kebencian, rasisme, penyelundupan alkohol, hingga konsumsi kokain.

“Polisi mengatakan kepada semua orang bahwa kita tidak bisa lagi memiliki standing di sepak bola, bahwa itu akan membahayakan keselamatan,” kata Greatrex. “Kenyataannya, yang kita lihat kemudian adalah proyek percontohan yang terkendali dan terkelola. Tingkat kekacauan yang disebut sebagian sumber kepolisian itu tidak terjadi.” Ia pun mendesak polisi untuk lebih berpikiran terbuka dan terlibat dalam pembahasan secara masuk akal dan dewasa.

Suara Suporter Terbelah

Bagi banyak suporter yang rutin datang ke stadion, risiko bir dilempar dan potensi perilaku antisosial lebih besar daripada kesempatan menonton pertandingan sambil memegang segelas bir. Dave, suporter Chelsea yang tinggal di Twickenham, mengaku “100% menentang” wacana ini.

“Lihat saja beberapa rekaman yang beredar di media sosial di Boxpark. Begitu gol tercipta, bir dan lager dilempar ke mana-mana,” katanya kepada Nicky Campbell di BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan tidak ingin pulang dengan badan berbau bir orang lain, dan menyoroti adanya semacam tren di kalangan sebagian suporter untuk melempar bir. “Kalau orang tidak bisa menahan diri tanpa minum selama 45 menit, ada sesuatu yang salah dengan mereka.”

Adrian dari Leicester menyebut pelonggaran aturan sebagai “ide terburuk yang bisa Anda pikirkan”. Menurutnya, sepak bola sudah cukup punya masalah lain, mulai dari flare hingga penyalahgunaan narkoba. “Sepak bola itu tribal, sedangkan olahraga lain tidak,” ujarnya.

Namun, ada juga suporter yang mencari jalan tengah. Ryan, penggemar Wolverhampton Wanderers yang tinggal di Banbury, menilai solusi yang bisa memuaskan semua pihak adalah menyediakan area khusus untuk minum di tribun. Pendekatan itu sejalan dengan gagasan FSA yang ingin menyerahkan keputusan kepada masing-masing klub.

Bagaimana Aturannya di Negara Lain?

Pendekatan terhadap alkohol di stadion sepak bola sangat bervariasi di Eropa. Di Jerman, Bundesliga tidak melarang penonton menikmati bir di kursi mereka. Begitu santainya, Anda bahkan bisa menjumpai orang berjualan botol bir dari troli belanja di luar stadion.

Serie A Italia juga relatif longgar, meski ada batas kadar alkohol maksimal 5%. Pada pertandingan yang dikategorikan berisiko tinggi, penjualan alkohol ditangguhkan di dalam maupun di sekitar stadion.

Sebaliknya, Spanyol menerapkan larangan ketat di dua divisi teratas. Hanya bir tanpa alkohol yang boleh dijual di luar area hospitality, itupun bisa dibawa ke kursi penonton. Prancis mengikuti jejak Skotlandia lewat Evin Law yang diperkenalkan pada 1991: alkohol tidak boleh dijual di acara olahraga mana pun, kecuali di area VIP.

Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya?

Wacana menghapus larangan minum alkohol di tribun sepak bola Inggris berada di persimpangan antara tradisi lama dan realitas stadion modern. Di satu sisi, FSA, EFL, dan sejumlah klub melihat aturan 1985 sebagai warisan era hooliganisme yang tak lagi relevan dengan standar pengelolaan stadion hari ini. Di sisi lain, kepolisian dan sebagian suporter menilai risikonya terlalu besar untuk diabaikan.

Yang jelas, langkah WSL dan uji coba di Skotlandia membuat perdebatan ini tak lagi sekadar teori. Jika reformasi benar-benar bergulir, bentuknya kemungkinan tidak seragam: ada klub yang membuka penjualan alkohol di seluruh tribun, ada yang membatasinya di area tertentu, dan ada pula yang memilih tetap kering. Seberapa jauh perubahan itu berjalan akan sangat bergantung pada konsultasi dengan suporter serta hasil pemantauan lapangan.

Exit mobile version