Cameroon resmi menjadi juara Wafcon 2026 setelah mengalahkan Malawi 3-0 pada laga final yang digelar di Rabat, Maroko. Kemenangan ini mengantar tim berjuluk Indomitable Lionesses itu meraih gelar Piala Afrika Wanita untuk pertama kalinya sepanjang sejarah mereka. Penampilan apik Marie Ngah Manga dan Naomi Eto menjadi pembeda di pertandingan puncak yang berlangsung di Stadion Moulay Hassan tersebut.
Malawi sendiri tampil sebagai debutan yang menjadi kejutan besar sepanjang turnamen, tetapi mereka tidak berdaya menghadapi solidnya permainan Cameroon. Meski datang dengan status tim berperingkat terendah di Wafcon 2026, Malawi tetap dianggap berbahaya berkat ketajaman duet Chawinga bersaudara. Namun, kematangan dan organisasi permainan yang ditunjukkan skuad asuhan Valentine Nguele pada akhirnya terlalu berat bagi lawannya.
Cameroon Juara Wafcon 2026 Berkat Ketajaman Ngah Manga dan Eto
Gol pembuka Cameroon datang pada menit ke-20 melalui sundulan jarak dekat Marie Ngah Manga. Berawal dari umpan silang Eto dari sisi kanan yang gagal diantisipasi kiper Mercy Sikelo, bola sempat membentur mistar setelah disundul Grace Mendoua dan kemudian disambar Ngah Manga dari jarak dua yard. Keunggulan tersebut semakin terasa nyata ketika Eto menggandakan skor pada menit ke-30 lewat voli spektakuler yang tak mampu dihalau pertahanan Malawi.
Memasuki masa injury time babak pertama, Eto kembali menjadi kreator gol ketika ia melewati Sikelo dan memberikan umpan matang kepada Ngah Manga. Striker tersebut tinggal menceploskan bola ke gawang kosong dan mencetak gol kelimanya di turnamen ini. Padahal, Ngah Manga nyaris melengkapi hat-trick sekaligus mengunci gelar pencetak gol terbanyak pada awal babak kedua, tetapi tembakannya dari jarak enam yard meleset saat tinggal berhadapan dengan kiper lawan.
Cameroon hampir menambah gol keempat di penghujung laga, tetapi tendangan Eto dari sudut sempit masih bisa diselamatkan Sikelo. Sundulan Mendoua dari situasi sepak pojok juga belum berbuah hasil karena melenceng di depan gawang. Sementara itu, gol dari pemain pengganti Gabrielle Onguene di masa injury time dianulir karena offside, dan ia mendapat kartu kuning setelah merayakannya dengan melepas jersey.
Perjalanan Malawi dan Upaya Membendung Chawinga Bersaudara
Malawi lolos ke final dengan modal luar biasa, terutama berkat performa Tabitha dan Temwa Chawinga yang menjadi andalan lini depan. Namun, lini belakang Cameroon tampil disiplin dan berhasil memutus alur bola ke kedua pemain tersebut sepanjang pertandingan. Peluang terbaik Malawi baru muncul setelah jam pertama, ketika sepakan Tabitha ditepis kiper Michaely Bihina dan rebound dari Temwa masih melebar.
Sebagai tim dengan peringkat FIFA 153 atau terendah di antara peserta Wafcon 2026, pencapaian Malawi tetap layak diapresiasi. Mereka mampu melaju jauh melebihi ekspektasi dan bahkan menembus final setelah menyingkirkan lawan-lawan unggulan di babak sebelumnya. Meski harus puas sebagai runner-up, penampilan mereka menjadi bukti bahwa kesenjangan kekuatan di sepak bola wanita Afrika mulai menyempit.
Duet Chawinga memang menjadi senjata utama Malawi sejak awal turnamen, terutama dalam kemenangan semifinal mereka atas Aljazair. Akan tetapi, Monique Ngock tampil gemilang di lini tengah Cameroon untuk memutus pasokan bola kepada kedua penyerang tersebut. Ditambah ketangguhan Bihina di bawah mistar, skema serangan Malawi yang sebelumnya efektif menjadi tumpul di partai puncak.
Kronologi Perjuangan Cameroon Kembali ke Panggung Juara
Kemenangan ini semakin berarti karena Cameroon sempat absen pada Wafcon 2024 dan bahkan gagal lolos ke edisi ini setelah kalah agregat 1-3 dari Aljazair di putaran kedua kualifikasi. Namun, keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) memperluas putaran final dari 12 menjadi 16 tim membuka jalan bagi Cameroon untuk tampil kembali. Mereka akhirnya mendapatkan tempat berdasarkan peringkat dunia, lalu memanfaatkan kesempatan itu dengan konsisten hingga partai final.
Perjalanan Cameroon di turnamen ini tidak mudah. Sebelum final, mereka menyingkirkan Nigeria 1-0 di perempat final melalui penampilan gemilang Bihina yang melakukan sembilan penyelamatan, lalu mengalahkan tuan rumah Maroko lewat adu penalti di semifinal. Bihina menjadi pahlawan ganda dengan mementahkan penalti pada masa perpanjangan waktu dan tiga tendangan lain dalam babak tos-tosan.
Valentine Nguele yang baru menjabat sebagai pelatih sejak Juni berhasil membangun skuad yang kompak dan disiplin dalam waktu singkat. Ia juga mampu mengelola tekanan dengan baik, termasuk saat menghadapi tim-tim unggulan seperti Nigeria dan Maroko. Keberhasilan ini semakin manis karena presiden federasi sepak bola Cameroon, Samuel Eto’o, merayakan setiap gol dengan sangat emosional di tribun stadion.
Dampak Kemenangan: Hadiah Besar dan Tiket Piala Dunia 2027
Di samping trofi, Cameroon juga membawa pulang hadiah uang sebesar 2 juta dolar AS dari turnamen ini. Mereka menjadi tim keempat yang pernah menjuarai Wafcon setelah Nigeria, Guinea Ekuatorial, dan Afrika Selatan. Sebelumnya, Cameroon tiga kali kalah di final, tepatnya pada 2004, 2014, dan 2016, dan semuanya datang dari tangan Nigeria.
Kedua finalis dipastikan tampil di Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil, bersama Aljazair dan Maroko yang juga mencapai semifinal Wafcon 2026. Presiden FIFA Gianni Infantino dan presiden Caf Patrice Motsepe hadir langsung untuk menyerahkan trofi kepada para pemain Cameroon. Keempat tim Afrika ini akan mewakili benua tersebut di panggung sepak bola wanita paling bergengsi di dunia.
Usai laga, Ngah Manga mengungkapkan kebanggaannya dalam wawancara dengan E4. “Kami sangat bahagia. Kami telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk sampai di sini,” ujarnya. “Akhirnya menjadi juara adalah sesuatu yang sangat kami banggakan.”
Analisis: Perluasan Peserta Wafcon Terbukti Membuka Persaingan
Keputusan Caf memperbesar jumlah peserta menjadi 16 tim mendapat sorotan positif pada turnamen kali ini. Banyak tim non-unggulan yang mampu menunjukkan kualitas dan bersaing dengan tim-tim elite Afrika seperti Nigeria dan Afrika Selatan. Hal ini membuat edisi Wafcon 2026 dianggap sebagai salah satu turnamen paling kompetitif dan menarik dalam sejarah sepak bola wanita Afrika.
Keberhasilan Malawi menembus final dari peringkat 153 dunia jelas menjadi cerita terbesar turnamen ini. Namun, ancaman Chawinga bersaudara berhasil diputus oleh Ngock di lini tengah, sementara Bihina terus membuktikan diri sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang ajang. Di sisi lain, Aljazair di bawah Farid Benstiti juga menunjukkan perkembangan yang signifikan sejak edisi sebelumnya, sehingga persaingan Afrika akan semakin seru menuju Piala Dunia 2027.
Dengan empat perwakilan yang sudah pasti tampil di Brasil tahun depan, masa depan sepak bola wanita Afrika tampak semakin cerah. Pengalaman melawan tim-tim terbaik dunia akan menjadi modal berharga bagi para pemain dan pelatih. Cameroon juara Wafcon 2026, dan kini seluruh penggemar sepak bola Afrika menantikan bagaimana mereka membawa performa ini ke panggung yang lebih besar.
