Situs berita bola

Debut Eropa Bournemouth, Puncak Perjalanan dari Jurang

Debut Eropa Bournemouth akhirnya menjadi kenyataan. Pada Kamis nanti, klub asal pesisir selatan Inggris itu menjalani pertandingan kompetitif pertamanya melawan wakil benua Eropa, yakni Real Sociedad, di San Sebastián, dalam ajang Liga Europa. Bagi Bournemouth, ini bukan sekadar laga tambahan di kalender kompetisi, melainkan tonggak sejarah yang menandai puncak perjalanan panjang dari titik terendah.

Perjalanan menuju momen ini tidak pernah mulus. Bournemouth pernah berkutat di kasta ketiga, nyaris terlempar ke kompetisi non-liga, dan bahkan menjalani musim dengan pengurangan poin. Kini sebagian suporter telah memesan perjalanan ke Praha, Oslo, dan Vigo demi mengikuti tim kesayangan mereka. Momen ini pun terasa emosional bagi banyak orang yang telah mengikuti klub sejak puluhan tahun silam.

Debut Eropa Bournemouth Dimulai Melawan Real Sociedad

Real Sociedad jelas bukan nama baru di kompetisi antarklub Eropa. Klub asal wilayah Basque tersebut tampil di Eropa untuk keenam kalinya dalam tujuh musim terakhir. Di sisi lain, Bournemouth benar-benar berada di wilayah yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya, sehingga laga ini terasa seperti teritori asing bagi skuad dan pendukungnya.

Momen kualifikasi ke Liga Europa dirayakan dengan cara yang khas Bournemouth. Pada hari terakhir musim lalu, para staf dan pemain berkumpul mengelilingi sebuah bendera bertuliskan “Rayanair” yang menggambarkan penyerang asal Brasil mereka sedang mengemudikan pesawat. Para suporter yang bersuka cita menjadi latar sempurna bagi foto-foto perayaan tersebut, dan gelombang antusiasme itu berlanjut hingga kini.

Ada keunikan tersendiri pada penentuan lawan kali ini. Andoni Iraola, yang tumbuh besar di wilayah Basque, akan membawa Bournemouth kembali ke San Sebastián. Steve Fletcher, legenda klub yang kini menjabat duta Bournemouth, menyebutnya sebagai “momen bersejarah, momen ‘saya ada di sana'”. Ia mengaku telah bertukar pesan dengan Iraola pekan ini, dan sang pelatih mengirimkan ucapan terbaik sekaligus harapan agar timnya meraih kemenangan.

Jejak 13 Tahun Lalu, Ketika Real Madrid Bertandang

Bournemouth tidak selalu menjadi tim papan atas Inggris. Tiga belas tahun lalu, beberapa bulan setelah finis sebagai runner-up di bawah Doncaster di kasta ketiga, mereka menjamu Real Madrid dalam laga persahabatan. Hari itu musim panas yang hangat, dan secara resmi menjadi pertandingan pertama Carlo Ancelotti sebagai pelatih Madrid.

Gelombang pemain bintang pun turun ke lapangan, mulai dari Cristiano Ronaldo, Luka Modric, Kaká, hingga Karim Benzema, dan daftar itu masih panjang. Madrid menang telak 6-0, tetapi ada kejadian tak terduga sebelum laga benar-benar memanas: tendangan bebas Ronaldo yang melenceng di awal pertandingan mematahkan pergelangan tangan seorang bocah berusia 11 tahun. Bagi klub seukuran Bournemouth saat itu, kedatangan rombongan sebesar itu terasa hampir tidak masuk akal.

Fletcher sendiri sudah pensiun sebulan sebelum laga tersebut digelar. “Saya pensiun sebulan lebih awal, dan saya pikir: ‘Ya, khas sekali, kan?'” ujarnya sambil tersenyum. “Kau bermain untuk sebuah klub selama 20 tahun, lalu klub terbesar di dunia datang ke sini. Saya ingin bilang ke Eddie Howe: ‘Boleh saya main lima menit di lapangan?’ Bagi mereka bermain di sini itu sungguh di luar nalar.”

Laga melawan Madrid itu juga bertepatan dengan pembukaan tribun yang dinamai Ted MacDougall, penyerang lain yang sangat dicintai di Bournemouth. Saat itu, tekanan untuk memastikan stadion siap menyambut pertandingan bersejarah tersebut terasa besar. Jika situasi itu terdengar familier, itu karena musim panas ini Bournemouth kembali harus menyesuaikan stadion mereka.

Perjalanan dari Minus 17 Poin ke Liga Europa

Fletcher memegang peran penting dalam perjalanan Bournemouth hingga sampai di titik ini. Gol kemenangannya di kandang melawan Grimsby pada hari kedua dari akhir musim 2008-09 memastikan klub tidak jatuh ke kompetisi non-liga. Saat itu, Bournemouth memulai musim dengan minus 17 poin setelah gagal keluar dari proses administrasi.

Kini pria berusia 54 tahun itu tercatat sebagai legenda klub dengan 121 gol dari 728 penampilan. Setelah pensiun, ia bekerja di departemen perekrutan, menjadi pelatih tim utama untuk Eddie Howe, Gary O’Neil, dan Scott Parker, lalu menjabat sebagai player liaison officer. “Masih ada peran kit man dan groundsman yang belum saya jalani,” ujarnya sambil tertawa.

Adam Smith, kapten Bournemouth berusia 35 tahun yang kini memasuki musim ke-15, juga merasakan betul perjalanan panjang tersebut. Ia masih mengingat masa-masa latihan di sekolah Canford, tak jauh dari fasilitas modern yang mulai mereka tempati 18 bulan lalu. Ketika bergabung dari Tottenham saat masih remaja, apakah ia pernah membayangkan bermain di Eropa? “Saya tak akan pernah percaya, rasanya itu gila,” kata Smith.

Fletcher juga menyebut nama Neil Vacher, mantan sekretaris klub yang kini menjadi sejarawan klub. Vacher tumbuh sebagai suporter sejak dekade 1960-an, ketika Bournemouth masih jauh dari sorotan. “Apakah dia pernah memimpikan kami bisa berada di kasta tertinggi, apalagi bermain di Eropa?” ujar Fletcher menggambarkan betapa jauhnya perubahan yang terjadi.

Ambisi Bill Foley dan Target Bermain di Eropa

Bournemouth telah berada di kasta teratas Liga Inggris pada hampir semua musim sejak promosi pada 2015, kecuali dua musim. Namun bermain di kompetisi Eropa terasa berbeda, karena persaingannya menuntut konsistensi di level yang lebih tinggi. Pencapaian ini rupanya pernah diprediksi jauh sebelumnya.

Pada akhir 2023, ketika Bournemouth berada di peringkat ke-14 Premier League, pemilik klub yang merupakan miliarder asal Amerika, Bill Foley, memprediksi timnya akan bermain di Eropa dalam lima tahun. Motto Foley, “Always Advance, Never Retreat” atau selalu maju dan tak pernah mundur, terpampang di dinding ruang direksi. Pernyataan itu terasa berani saat diucapkan, tetapi kini terbukti nyata.

Menurut Fletcher, Foley memang punya rekam jejak dalam mewujudkan prediksi semacam itu. Ia mendirikan Golden Knights, tim hoki es di Las Vegas, dan tim tersebut meraih Stanley Cup dalam enam musim. “Dia jelas punya bola kristal, dia bisa melihat sesuatu dan percaya pada orang. Saya selalu berpikir seharusnya ada film tentang masa-masa AFC Bournemouth ini,” kata Fletcher.

Arti Momen Ini bagi Pemain dan Suporter

Bagi sebagian besar pemain, bermain di kompetisi Eropa adalah pengalaman yang sama sekali baru. Mayoritas skuad menonton undian pada Agustus lalu bersama-sama di kantin klub. Sebelum musim ini, laga Eropa di tengah pekan biasanya hanya berarti malam di sofa bagi David Brooks.

Brooks menyaksikan rekannya di timnas Wales, Brennan Johnson, mengangkat trofi Liga Europa dan Liga Konferensi dalam dua musim beruntun bersama Tottenham dan Crystal Palace. Rekan lainnya, Neco Williams, tampil menonjol di Liga Europa bersama Nottingham Forest. “Saya senang untuk mereka, tetapi secara egois tentu kita ingin terlibat di tim seperti itu dan bersaing di Eropa,” ujar Brooks.

Ia menambahkan bahwa seluruh pemain kini tak sabar menunjukkan kemampuan mereka di panggung yang lebih besar. “Kami selalu menyulitkan tim-tim besar di Premier League dan menurut saya di Eropa pun tidak akan berbeda. Perjalanan klub ini sudah terdokumentasi dengan baik, dan menutupnya dengan trofi Eropa akan sangat menyenangkan,” tambahnya.

Fletcher menyoroti pula para suporter yang telah mengikuti klub sejak lama. “Akan ada orang-orang berusia 80-an dan 90-an yang datang ke laga Eropa kami, orang-orang yang telah menonton klub ini sejak dahulu kala. Bagi kami bisa bersaing dengan raksasa-raksasa sepak bola Eropa, itu sungguh ajaib,” katanya.

Agenda Kandang, Milan, dan Mimpi Menjamu Real Madrid

Musim panas ini, Bournemouth harus melakukan sejumlah peningkatan pada stadion mereka agar memenuhi regulasi UEFA. Situasi itu mengingatkan pada masa menjelang laga melawan Madrid dulu, ketika tekanan untuk menyiapkan stadion juga terasa besar. Kini standar kelayakan yang harus dipenuhi justru lebih ketat karena menyangkut kompetisi resmi.

Laga kandang pertama di Eropa akan digelar melawan Sturm Graz bulan depan. Sepekan setelahnya, Milan datang bertandang, tim yang warna merah-hitamnya menginspirasi kostum Bournemouth pada awal dekade 1970-an. “Hanya mengucapkan kata Milan, AC Milan, dalam satu kalimat dengan AFC Bournemouth, dalam sebuah laga kompetitif, itu gila. Saya langsung teringat Maldini, Baresi, Van Basten, Gullit,” kata Fletcher.

Tribun di ujung lain stadion telah menyandang nama Fletcher sejak 2010. Viktoria Plzen dan Hapoel Be’er Sheva akan bertandang pada Desember dan Januari, melengkapi jadwal kandang yang berat. “Banyak orang mungkin datang ke Bournemouth dan bertanya: ‘Siapa Steve Fletcher?’ Karena saya bukan salah satu pesepak bola hebat, tetapi saya sangat bangga dengan karier yang saya jalani,” ujar pria berusia 54 tahun itu.

Ia juga mengenang pujian dari sejumlah pelatih papan atas yang sempat melirik tribun tersebut sebelum pertandingan. “Saya pernah dilirik manajer-manajer Premier League satu setengah jam sebelum kick-off, dan mereka bilang: ‘Itu tribunmu, bagus sekali.’ Orang seperti José Mourinho dan Pep Guardiola pernah mengatakan itu, dan setelah menjauh saya langsung menelepon orang tua saya dan berkata: ‘Kamu tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi,'” kenangnya.

Debut Eropa Bournemouth bukan hanya soal satu pertandingan Kamis nanti. Ini adalah hasil akumulasi dari kesabaran, kerja keras, dan keberanian pemilik klub yang berani memasang target tinggi. Perjalanan dari minus 17 poin hingga berdiri sejajar dengan wakil-wakil Eropa menunjukkan bahwa klub kecil pun bisa membangun sesuatu yang besar bila arah pengelolaannya konsisten.

Fletcher sendiri tidak bisa menyembunyikan harapannya untuk masa depan. “Ini melampaui mimpi terliar siapa pun, dan kami masih harus mencubit diri sendiri. Tetapi pada saat yang sama, kami harus menikmatinya dan merangkulnya,” ujarnya. “Bukankah luar biasa jika dalam beberapa tahun ke depan kami bisa bermain melawan Real Madrid dalam laga yang sesungguhnya?”

Exit mobile version