good slot

DR Congo Piala Dunia 2026: Antara Kenangan Pahit 1974 dan Harapan Baru

Perjalanan Panjang DR Congo Menuju Piala Dunia 2026

DR Congo kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026 setelah 52 tahun absen dari panggung terbesar sepak bola dunia. Keikutsertaan mereka kali ini bukan sekadar cerita olahraga, melainkan sebuah narasi penuh liku yang menghubungkan masa lalu kelam, momen kejayaan yang sempat pudar, dan harapan baru bagi bangsa yang lama dilanda konflik.

Dalam laga babak 32 besar, DR Congo akan berhadapan dengan Inggris pada hari Rabu. Pertandingan ini dianggap oleh banyak pihak—termasuk jurnalis yang meliput peristiwa bersejarah sebelumnya—sebagai kesempatan untuk mengembalikan martabat dan persatuan negeri yang selama puluhan tahun dirundung perang dan korupsi.

HOUSTON, TEXAS – JUNE 12: (EXCLUSIVE COVERAGE) Charles Pickel #18 of DR Congo participates in a drill during a training session ahead of the FIFA World Cup 2026 on June 12, 2026 in Houston, Texas. Maria Lysaker/Getty Images/AFP (Photo by Maria Lysaker / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Debut Pahit di Piala Dunia 1974: Tiga Kekalahan Tanpa Gol

Saat masih bernama Zaire, DR Congo menjadi negara pertama dari Afrika sub-Sahara yang lolos ke Piala Dunia 1974. Namun, partisipasi perdana itu berakhir dengan catatan menyedihkan: tiga pertandingan, tiga kekalahan, 14 gol kebobolan, dan tanpa satu pun gol tercipta.

Kekalahan 2-0 dari Skotlandia dan 9-0 dari Yugoslavia menjadi awal buruk. Namun, momen paling terkenal justru terjadi saat melawan Brasil. Tertinggal 2-0, bek Mwepu Ilunga tiba-tiba berlari keluar dari pagar bet dan menendang bola jauh saat Brasil bersiap mengambil tendangan bebas. Ia mendapat kartu kuning dan dicemooh karena dianggap tidak tahu aturan.

Namun, 36 tahun kemudian, Ilunga mengaku bahwa aksinya adalah bentuk protes. “Saya paham peraturan. Saya lakukan itu dengan sengaja,” katanya kepada BBC pada 2010. Ia marah karena federasi sepak bola Zaire diduga menggelapkan uang bonus yang seharusnya diterima pemain dari FIFA.

Protes Pemain dan Kekalahan Telak

Sebelum melawan Yugoslavia, para pemain sempat mogok bermain karena belum menerima tunjangan yang dijanjikan. Kiper cadangan Mohamed Kalambay menyebut masalah itu merusak moral tim. “Kami hanya kekurangan satu hal: pengakuan. Kami tidak mendapat bonus. Jika semangatmu hilang, hasilnya seperti yang terjadi,” ungkapnya.

Kazadi Mwamba ditarik keluar pada menit ke-21 saat masih 3-0, dan striker Pierre Ndaye Mulamba diusir wasit tak lama kemudian. Kekalahan telak itu menjadi titik nadir perjalanan Zaire di Jerman Barat.

Rumble in the Jungle: Momen Kejayaan di Tengah Krisis

Beberapa bulan setelah Piala Dunia 1974, Zaire kembali menjadi pusat perhatian dunia. Presiden Mobutu Sese Seko menggelontorkan dana besar untuk menjadi tuan rumah pertarungan kelas berat Muhammad Ali melawan George Foreman yang legendaris, dikenal sebagai Rumble in the Jungle.

Mobutu membayar masing-masing petinju sebesar 5 juta dolar AS demi menggelar laga di Kinshasa. Jurnalis Justin Kabala Mwana, yang meliput pertarungan itu, menyebutnya sebagai kudeta media yang luar biasa. “Seluruh negeri dimobilisasi untuk menyambut pertarungan abad ini. Mobutu tidak tanggung-tanggung demi menunjukkan negaranya ke panggung dunia,” kenangnya.

Pada 30 Oktober 1974, di Stade du 20 Mai yang penuh sesak, Ali menggunakan taktik rope-a-dope untuk melelahkan Foreman sebelum menjatuhkannya di ronde kedelapan. Kemenangan itu disambut euforia nasional. “Orang berpesta semalaman. Bir mengalir bebas hingga 48 jam setelah pertarungan,” kata Kabala. Namun, ia menambahkan, begitu pesta usai, masa sulit kembali menghadang.

Dari Zaire ke DR Congo: Tahun-Tahun Kelam dan Keterpurukan

Kekuasaan Mobutu berakhir pada 1997, dan negara itu kembali berganti nama menjadi DR Congo. Dua perang besar (1996–2003) menewaskan hingga enam juta jiwa dan melibatkan sembilan negara Afrika. Tragisnya, para pemain timnas 1974 juga ikut menderita. Ilunga mengaku pulang tanpa uang sepeser pun, dan pada 2002 ia menyebut hidupnya seperti gelandangan. Bintang striker Ndaye bahkan tertembak di kaki saat perampokan di rumahnya pada 1996.

Butuh waktu 52 tahun bagi DR Congo untuk kembali ke Piala Dunia. Setelah nyaris lolos pada 2018 dan 2022, akhirnya pada 2026 mereka berhasil menembus putaran final. Kunci kebangkitan ini adalah perekrutan pemain diaspora—pendekatan yang kini banyak digunakan negara Afrika lain.

Dari 26 pemain skuad saat ini, hanya enam yang lahir di DR Congo, dan tak satu pun bermain di liga domestik yang terpuruk akibat mismanajemen federasi. Namun, pelatih asal Prancis, Sebastien Desabre, yang mulai menangani tim pada 2022, berhasil membangun semangat tim yang kuat dan konsistensi susunan pemain.

Prestasi Baru: Gol dan Kemenangan Perdana

Skuad Leopards kini telah melakukan apa yang gagal diraih pendahulu mereka: mencetak gol pertama di Piala Dunia dan meraih kemenangan perdana. Gol perdana sekaligus poin pertama diraih saat imbang 2-2 melawan Portugal di laga pembuka, disusul kemenangan atas Uzbekistan yang membawa mereka ke babak gugur.

Bagi suporter seperti Tanya Maria yang hadir di Amerika Serikat, kehadiran DR Congo di Piala Dunia 2026 adalah investasi moral bagi negaranya. “Ketika orang peduli pada sebuah negara dan rakyatnya, saat itulah perubahan bisa terjadi,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola: Harapan untuk Perdamaian

Konflik masih berkecamuk di timur DR Congo, dan wabah Ebola sempat mengganggu persiapan tim. Namun, para pemain sadar mereka memperjuangkan sesuatu yang lebih besar. “Tidak mudah di negara kami. Setiap kali kami memakai seragam ini, kami memikirkan mereka yang berperang di Kongo Timur. Kami ingin perdamaian,” kata striker Yoane Wissa usai mengalahkan Uzbekistan.

Bek tengah Axel Tuanzebe, yang mencetak gol penentu lolos ke Piala Dunia lewat play-off antarbenua melawan Jamaika, mengaku bersyukur atas fasilitas yang kini mereka terima. “Kami tidak kekurangan apa pun, dan itu memungkinkan kami tampil maksimal.”

Bagi jurnalis Kabala, pertandingan melawan Inggris di babak 32 besar hampir lebih besar dari Rumble in the Jungle. DR Congo berpotensi menjadi mimpi buruk bagi ambisi Inggris merebut gelar juara dunia kedua. Namun yang terpenting, sepak bola telah memberi negeri ini secercah harapan untuk menulis ulang sejarah—bukan sebagai negara yang runtuh dalam kekalahan, melainkan sebagai bangsa yang bangkit dari keterpurukan.

Kesimpulan: DR Congo di Piala Dunia 2026 bukan sekadar tim sepak bola, melainkan simbol ketahanan sebuah bangsa. Dari kegagalan 1974 hingga kilas balik Rumble in the Jungle, dan kini langkah baru di panggung dunia, kisah Leopards adalah pengingat bahwa olahraga mampu merekatkan luka dan membuka jalan menuju perubahan yang lebih baik.

Exit mobile version