Emiliano Martinez langsung menjalani debutnya bersama Chelsea hanya lima jam setelah kepindahannya diumumkan secara resmi. Kiper berusia 33 tahun itu langsung dipercaya Xabi Alonso mengawal gawang saat Chelsea menjamu Brighton di Stamford Bridge, dan laga itu berakhir dengan kemenangan dramatis 4-3. Namun, debut yang cepat itu justru memperjelas satu hal: Martinez sendirian tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah pertahanan Chelsea.
Kepindahan Martinez ke Chelsea sendiri berlangsung sangat cepat dan sempat mengejutkan banyak pihak. Ia ditebus dari Aston Villa dengan nilai transfer sekitar £7,5 juta, dan meski pengumuman resminya baru keluar beberapa jam sebelum kick-off, sebenarnya ia sudah menyelesaikan seluruh proses kepindahannya sebelum tenggat registrasi pada Jumat. Penundaan pengumuman publik dilakukan semata-mata untuk keperluan pemasaran klub, bukan karena proses transfer yang belum tuntas.
Debut Kilat dan Tiga Gol yang Masuk ke Gawang Chelsea
Dalam laga debutnya, Martinez tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah tiga gol Brighton yang masuk ke gawangnya. Berbeda dengan laga sebelumnya saat melawan Fulham, ketika Robert Sanchez jelas bersalah pada gol pertama dan bisa dibilang juga pada gol kedua dalam kemenangan 3-2, kali ini kiper asal Argentina itu nyaris tidak mendapat sorotan negatif. Namun catatan kebobolan Chelsea tetap memprihatinkan: sudah lima gol bersarang di gawang mereka hanya dalam dua pertandingan pembuka. Beruntung, lini serang baru Chelsea yang impresif mampu menutup kekurangan itu dan menjaga rekor 100 persen kemenangan mereka tetap utuh.
Meski demikian, Martinez menegaskan bahwa hasil akhir adalah yang terpenting. “Kemenangan tetaplah kemenangan,” ujarnya kepada Sky Sports setelah laga debutnya. “Saya tahu ini bukan pertandingan yang sempurna. Tapi pada akhirnya, menang dan melangkah maju adalah yang kami butuhkan.” Ia menambahkan bahwa lini depan Chelsea luar biasa dan mampu menyakiti lawan saat menyerang, dengan banyak peluang untuk mengunci pertandingan lewat Cole Palmer dan Joao Pedro. Namun ia juga sadar bahwa lini belakang harus bekerja lebih keras untuk menekan jumlah gol yang masuk.
Mantan kiper Premier League, Shay Given, yang menjadi pandit di Match of the Day, menyebut Martinez sebagai pembelian yang brilian. Menurut Given, keputusan Alonso langsung menurunkan Martinez menunjukkan bahwa sang manajer tidak mau main-main dan jelas merasa butuh sosok dengan reputasi seperti itu di bawah mistar. “Sang manajer jelas berpikir dia membutuhkan seseorang dengan reputasi seperti itu,” kata Given kepada BBC Sport.
Emiliano Martinez di Chelsea dan Nasib Robert Sanchez
Kedatangan Martinez tentu menjadi pukulan telak bagi karier Robert Sanchez di Chelsea. Kiper asal Spanyol itu bergabung dari Brighton dengan biaya £25 juta pada 2023, tetapi belum pernah memenangkan trofi besar sebelum pindah ke Stamford Bridge. Sebaliknya, Martinez adalah peraih dua kali penghargaan Fifa Best Goalkeeper, sekaligus pahlawan Argentina saat menjuarai Piala Dunia 2022 dan mengantar Aston Villa merebut trofi Europa League pada Mei lalu.
Secara statistik dan lewat pengamatan langsung, Sanchez sebenarnya cukup kompetitif dibandingkan banyak kiper lain, dan itulah alasan kepala sektor kiper Chelsea, Ben Roberts, bertahan lama memberinya kepercayaan. Namun ia kerap melakukan kesalahan, terutama sepanjang musim 2024-25, hingga sempat kehilangan tempat utama dari Djordje Petrovic yang kini di Bournemouth dan Filip Jorgensen yang kini di Strasbourg, sebelum akhirnya merebut kembali posisi starter. Ironisnya, meski hanya membuat satu kesalahan yang berujung gol musim lalu—jauh lebih sedikit dibanding tiga kesalahan Martinez di Aston Villa—Sanchez kini justru dianggap bisa dilepas dan jatuh ke urutan keempat dalam hierarki kiper di Stamford Bridge.
Ketika ditanya soal masa depan Sanchez, Alonso hanya menjawab singkat: “Kita lihat saja. Kadang Anda harus mengambil keputusan sulit.” Padahal, sebelum berubah haluan, Alonso sempat memberikan dukungan publik dan para petinggi klub juga mendukung Sanchez secara pribadi. Data musim lalu juga menunjukkan Martinez punya angka yang lebih baik daripada Sanchez dalam hal kebobolan, persentase penyelamatan, pencegahan gol, dan akurasi umpan, meskipun jumlah kesalahan berujung golnya justru lebih banyak.
Dukungan Legenda dan Ambisi Martinez di Chelsea
Martinez sendiri sudah mulai memikat hati para pendukung Chelsea. Ia bahkan sempat meminta izin kepada John Terry untuk mengenakan nomor punggung 26 di Chelsea, sebuah nomor yang identik dengan legenda klub tersebut. Ia juga mengaku telah berbicara dengan dua legenda Chelsea, John Terry dan Petr Cech, dan sadar betul seberapa besar klub yang kini dibelanya.
“Saya datang ke sini untuk menantang dan mencoba memenangkan Premier League,” tegas Martinez. “Saya baru berlatih satu hari bersama tim. Rekan-rekan memperlakukan saya dengan sangat baik. Saya tahu bakat yang kami miliki di lini depan, dan saya mencoba memberikan soliditas di lini belakang.” Ambisinya jelas, tetapi pertanyaannya kini adalah apakah Chelsea mampu menopang ambisi itu dengan permainan yang lebih seimbang.
Pekerjaan Rumah Besar untuk Xabi Alonso
Alonso punya banyak pekerjaan rumah setelah laga melawan Brighton. Timnya kesulitan menguasai bola dan tampil rapuh saat menghadapi bola mati. Catatan penguasaan bola Chelsea hanya 25,9 persen melawan Brighton, angka terendah sepanjang karier manajerial Alonso di Chelsea, Bayer Leverkusen, dan Real Madrid. Chelsea bahkan hanya melepaskan 146 umpan sukses, catatan terendah mereka dalam sejarah Premier League sejak pencatatan dimulai pada musim 2003-04.
Ketidakmampuan menjaga bola itu semakin terasa karena Enzo Fernandez kembali absen dari skuad utama untuk pertandingan kedua berturut-turut. Manchester City dikabarkan akan segera mengajukan tawaran sebelum tenggat bursa transfer pada Selasa. Chelsea juga cemas dengan kebugaran Moises Caicedo yang harus ditarik keluar hanya 11 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti.
Dengan Gusto dan Lavia yang mengisi pos gelandang tengah, sementara Jordan Henderson cedera dan Barco dinilai belum siap tampil sebagai starter, lini tengah Chelsea jelas kekurangan proteksi. Situasi ini diperparah dengan peralihan formasi ke tiga bek setelah musim lalu lebih sering memakai empat bek, membuat Wesley Fofana, Maxence Lacroix, dan Levi Colwill kerap tampil rentan. Tidak heran Chelsea kini dikaitkan dengan gelandang Monaco, Lamine Camara, dan ingin memastikan pengganti siap jika Fernandez benar-benar hengkang ke City dengan nilai yang diperkirakan menembus £120 juta.
Cetak Banyak Gol, Tapi Tak Pernah Clean Sheet
Chelsea memang tampil menyerang dengan luar biasa, mencetak tujuh gol dalam dua laga pembuka. Namun di sisi lain, mereka juga sudah kebobolan lima gol dan kini tercatat 18 laga beruntun tanpa clean sheet, rentetan terpanjang mereka sejak era 1960-an. Data ini menunjukkan bahwa persoalan Chelsea bukan hanya soal kiper, melainkan juga soal struktur pertahanan secara keseluruhan.
Menariknya, Alonso justru meremehkan kekhawatiran itu. Ia menilai situasi seperti ini wajar terjadi pada banyak tim, terutama karena para pemainnya belum cukup lama bekerja sama. “Tidak, menurut saya ini cukup normal,” katanya. “Ini terjadi di banyak tim, tim-tim lain yang sudah bekerja lebih lama dan punya lebih banyak pertandingan bersama.”
Tantangan Besar Menanti di Markas Arsenal
Dengan semua persoalan itu, ujian sesungguhnya bagi Chelsea sudah di depan mata. Jadwal berikutnya membawa mereka ke markas Arsenal, lawan yang jelas tidak akan memberi ampun terhadap lini belakang yang masih rapuh. Jika Chelsea ingin benar-benar diperhitungkan sebagai penantang gelar, Alonso harus segera menemukan cara untuk mengendalikan jalannya pertandingan, bukan sekadar mengandalkan ketajaman lini depan.
Kedatangan Emiliano Martinez jelas merupakan peningkatan besar di sektor kiper. Namun gelar juara tidak pernah dimenangkan hanya oleh seorang penjaga gawang, sekelas apa pun dia. Chelsea butuh keseimbangan antara serangan dan pertahanan, serta penguatan lini tengah yang mampu melindungi lini belakang. Tanpa itu, ambisi besar mereka hanya akan menjadi mimpi yang sulit diwujudkan.
