FIFA menuduh UEFA melakukan kampanye negatif terhadap FIFA dan kepemimpinannya. Tuduhan itu disampaikan lewat dokumen pengadilan di Amerika Serikat sebagai respons atas langkah UEFA yang menggugat FIFA terkait rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta yang sudah dibatalkan. Perseteruan kedua badan sepak bola itu kini memasuki babak hukum yang terbuka.
Langkah UEFA itu diajukan pekan lalu dalam bentuk permintaan akses bukti dan dokumen dari FIFA, yang terkait dengan potensi tuntutan pidana di Swiss. Sengketa ini berakar dari skema FIFA Forward Enterprise (FFE) yang sempat dirancang FIFA, kemudian diumumkan pada Juli, dan langsung menuai kontroversi besar. Alih-alih mereda, persoalan itu justru berubah menjadi pertarungan hukum lintas negara.
FIFA Menuduh UEFA Melakukan Kampanye Negatif
Dalam berkas yang diajukan ke pengadilan AS dan dilihat BBC, FIFA meminta agar permintaan UEFA untuk mendapatkan akses dokumen ditunda atau ditentang sebelum akhir bulan ini. FIFA menilai argumen UEFA “mengalami cacat fundamental” dan memiliki “kekurangan hukum”. FIFA juga menegaskan bahwa permintaan UEFA seharusnya diuji lebih dulu sebelum pengadilan memberi izin penyelidikan yang luas.
Menurut FIFA, UEFA mencari akses dokumen untuk mendukung proses pidana asing yang sebenarnya tidak ada. UEFA sendiri, kata FIFA, tidak memiliki wewenang untuk memulai proses semacam itu. Meski menghadapi masalah mendasar itu, UEFA tetap meminta pengadilan memberikan izin penyelidikan besar-besaran terkait FFE.
FIFA menganggap langkah UEFA bukan bagian dari proses demokrasi internal FIFA. Dalam dokumennya, FIFA menyebut UEFA justru meluncurkan kampanye negatif terhadap FIFA dan kepemimpinan presiden Gianni Infantino. Menurut FIFA, kampanye itu dimulai dari pernyataan publik UEFA dan berlangsung selama berminggu-minggu.
Akar Masalah: Rencana FFE dan Investasi Joshua Kushner
FFE adalah rencana FIFA untuk membentuk anak usaha komersial baru dan menawarkan 20 persen sahamnya kepada investor swasta. Menurut FIFA, dana dari skema itu akan dipakai untuk memperkuat asosiasi sepak bola nasional, terutama di negara-negara berkembang. Namun skema ini menjadi salah satu topik paling kontroversial karena melibatkan tokoh bisnis yang dekat dengan lingkaran politik Amerika Serikat.
Joshua Kushner, saudara laki-laki menantu Presiden Donald Trump, disebut bakal menjadi investor utama dalam FFE. Kushner bersama perusahaannya, Thrive Eternal, sempat berdiskusi dengan Infantino tentang investasi senilai US$4,2 miliar atau sekitar £3,1 miliar untuk 20 persen anak usaha komersial FIFA. Rencana ini kemudian dibatalkan dalam hitungan hari setelah terungkap ke publik pada Juli dan mendapat reaksi keras.
Saat proyek itu masih berjalan, FIFA sempat mengklaim FFE mampu menaikkan dana yang disalurkan ke setiap asosiasi nasional pada siklus 2027-2030, dari £5,9 juta menjadi £14,7 juta. Tuduhan UEFA kemudian membuat angka-angka ini kembali diperiksa publik. Gugatan itu juga menyoroti bagaimana keputusan strategis sebesar ini dibuat oleh FIFA.
