Situs berita bola

Indonesia Juara Piala Asean FIFA, Untung buat Infantino

Timnas Indonesia menutup gelaran perdana Piala Asean FIFA atau FIFA Asean Cup dengan status juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2 di Jakarta. Laga yang berakhir 2-2 setelah 120 menit itu disaksikan sekitar 70.000 penonton di stadion, dan menjadi penutup rangkaian turnamen bentukan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Kemenangan tuan rumah tersebut terasa istimewa karena Indonesia belum pernah sekalipun menjadi yang terbaik di kawasan Asia Tenggara dalam kompetisi resmi.

Namun di balik trofi itu, ada dimensi lain yang tak bisa diabaikan: turnamen ini lahir di tengah panasnya peta politik sepak bola Asia menjelang pemilihan presiden FIFA. Indonesia dan Jakarta disebut sudah berada di kubu Infantino, sehingga kemenangan di turnamen yang sangat identik dengan gagasannya menjadi semacam konfirmasi dukungan. Sementara itu, negara-negara Asia lain masih terbelah antara mendukung, menolak, atau menunggu kepastian siapa kandidat pesaingnya.

Dua Final dan Sambutan yang Berbeda untuk Infantino

Rangkaian turnamen ini sebenarnya terdiri dari dua ajang yang digelar berdekatan. Level kedua, Asean Challenge Cup, digelar di Hong Kong dan diikuti enam negara, dengan Hong Kong menundukkan Kamboja 2-0 di partai puncak. Infantino hadir langsung di stadion, tetapi sambutan yang diterimanya jauh dari hangat karena terdengar nyanyian bernada protes terhadap FIFA.

Baru 48 jam kemudian, suasana berubah drastis ketika ia hadir di Indonesia untuk laga puncak turnamen utama. Penerimaan terhadap pria berusia 56 tahun itu dinilai lebih ramah, sejalan dengan posisi Jakarta yang dianggap sudah sejalan dengan kepemimpinan FIFA saat ini. Kombinasi antara kemenangan tuan rumah dan dukungan politik yang sudah ada membuat turnamen ini secara tidak langsung menguntungkan posisi Infantino.

Di final Piala Asean FIFA yang diikuti delapan tim, Indonesia dan Thailand harus menyelesaikan pertandingan lewat drama penalti setelah skor imbang 2-2 hingga babak tambahan. Indonesia akhirnya menang 4-2 dalam adu tos-tosan tersebut. Duel itu juga mempertemukan dua pelatih asal Inggris, dengan John Herdman keluar sebagai pemenang atas Anthony Hudson.

Latar Belakang: Turnamen Baru di Tengah Kompetisi yang Sudah Ada

Asia Tenggara sebenarnya sudah memiliki turnamen dua tahunan sejak 1996, yang saat ini dikenal sebagai Hyundai Asean Cup. Edisi ke-16 kompetisi tersebut baru saja selesai pada Agustus lalu dengan Vietnam sebagai juara. Karena itu, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan perlunya satu turnamen baru yang format dan waktunya berpotensi berbenturan dengan ajang lama.

Gagasan ini muncul pada Oktober sebelumnya, ketika Infantino datang ke Kuala Lumpur dalam sebuah pertemuan kawasan Asean dan mengumumkan pembentukan turnamen baru. Beberapa menit setelah pidatonya, kantor media FIFA mengirim surel yang tampak disusun terburu-buru dan hanya berjanji akan menyusul detail lebih lanjut. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) disebut tidak senang karena lembaga dunia itu dianggap masuk ke wilayah pengaruhnya dan mengumumkan turnamen tanpa koordinasi yang mulus.

Informasi soal turnamen ini pun sempat sulit didapat. FIFA lalu mengirim undangan kepada China dan India, sebuah upaya yang jelas untuk merangkul sebanyak mungkin dari 2,8 miliar potensi penonton di kedua negara itu. Keduanya menolak: India memilih menjalani laga persahabatan bergengsi melawan Brasil, Panama, dan Uruguay, sementara China justru menutup jendela pertandingan dengan kekalahan 5-0 dari Palestina di kandang sendiri. Situasi itu membuat turnamen kehilangan daya tarik besar yang diharapkan.

Dari sisi penyiaran, minat juga tidak meledak. Sebagian besar negara di kawasan baru mendaftar setelah proses yang panjang, dan Thailand bahkan tidak mencapai kesepakatan, sehingga penggemar di sana menonton laga final lewat kanal-kanal milik FIFA. Kondisi ini memperlihatkan bahwa turnamen baru tak otomatis mendapat tempat di pasar yang sudah terbiasa dengan kompetisi lama.

Jalan Berliku Indonesia Menuju Gelar

Keunggulan utama turnamen ini adalah penjadwalannya yang jatuh pada jendela pertandingan internasional. Dengan semakin banyak pemain kawasan yang berkarier di Eropa, semua peserta bisa menurunkan skuat terkuatnya, termasuk Indonesia. Meski demikian, tuan rumah tetap harus melewati fase grup dengan cara yang sangat dramatis di grup empat tim.

Masuk ke laga terakhir, Indonesia wajib mengalahkan Bangladesh — pengganti India — dengan selisih satu gol lebih baik daripada selisih kemenangan Malaysia atas Singapura agar lolos ke final. Malaysia menang 6-0, dan saat pertandingan memasuki masa tambahan waktu, Indonesia memimpin 7-2 atas Bangladesh dengan hanya dua menit tambahan yang diberikan. Angka itu hampir pasti keliru mengingat jumlah gol dan tinjauan VAR sebelumnya, dan Indonesia mencetak gol pada menit ke-96 serta ke-97 untuk menang 9-2 sekaligus menyelamatkan langkah mereka.

Grup lainnya digelar di Bandung, sekitar 70 mil yang terletak di tenggara Jakarta, dan tidak seheboh grup Indonesia. Thailand memastikan tempat pertama bahkan sebelum laga terakhirnya. Jumlah penonton resmi tidak pernah dirilis, tetapi kursi kosong menjadi pemandangan yang menandai banyak pertandingan di fase grup.

Dampak: Trofi Tuan Rumah dan Klaim Juara Kawasan

Bagi Indonesia, gelar ini punya bobot emosional karena tim Merah Putih belum pernah menjadi juara Asia Tenggara. Pemberian hak tuan rumah oleh FIFA untuk turnamen yang sempat berisiko dianggap tidak perlu, tidak diinginkan, dan nyaris tak dilirik, justru berbuah manis bagi sepak bola nasional. Indonesia yang lapar prestasi akhirnya mendapat panggung untuk membuktikannya di depan publik sendiri.

Pertanyaannya, seberapa besar arti gelar ini di luar Indonesia? Karena Vietnam lebih dulu menjuarai edisi ke-16 Hyundai Asean Cup pada Agustus, klaim Indonesia sebagai juara Asia Tenggara bergantung pada siapa yang ditanya dan turnamen mana yang dijadikan acuan. Bagi banyak pihak di luar Indonesia, capaian ini berpotensi cepat terlupakan begitu turnamen usai.

Dari sisi penyelenggaraan, FIFA terlihat belajar dari kritik soal jadwal dan kualitas peserta. Penempatan turnamen di jendela internasional membuat laga lebih kompetitif, meski masalah penonton dan liputan media tetap menjadi pekerjaan rumah. Jika turnamen ini ingin bertahan, format pemasaran dan penyiaran perlu dibenahi agar tidak lagi mengandalkan kehadiran tuan rumah sebagai magnet utama.

Konteks Lebih Luas: Asia, Pemilu FIFA, dan Masa Depan Turnamen

Panggung Piala Asean FIFA tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Infantino menyusuri asosiasi anggota di Asia. Ia menghadiri seremoni peresmian kantor pusat baru di Macau, menandatangani kesepakatan pembangunan stadion nasional baru di Mongolia, serta meresmikan lapangan mini FIFA Arena di Uzbekistan. Semua itu dilakukan di saat pemilihan presiden FIFA semakin dekat, dan Asia masih terbelah dalam menentukan dukungan.

Sebagian asosiasi menyatakan mendukung petahana, sebagian terang-terangan menentang, sebagian menunggu melihat siapa kandidat lain yang muncul. Ada juga yang mengikuti arah kepemimpinan AFC untuk memilih melawan Infantino, sementara sisanya memilih bersikap menunggu. Dalam konteks inilah Indonesia, yang sudah berada di kubu Infantino, memberi keuntungan tambahan lewat gelar juara di turnamen ciptaannya.

Karena itu, keberhasilan sesungguhnya dari turnamen ini kemungkinan besar tidak diukur dari jumlah gol atau trofi, melainkan dari apakah gagasan ini memperbesar peluang Infantino mempertahankan jabatannya. Jika ya, bukan tidak mungkin kita akan kembali melihat Infantino dan Piala Asean FIFA hadir di Asia Tenggara pada edisi berikutnya. Jika tidak, turnamen ini berisiko bernasib sama seperti pencetusnya.

Pada akhirnya, edisi perdana Piala Asean FIFA meninggalkan dua cerita sekaligus: sebuah trofi bersejarah bagi Indonesia dan sebuah ajang baru yang masih mencari alasan untuk dianggap penting. Drama lapangan sudah selesai, tetapi pertanyaan soal relevansi turnamen ini akan bergantung pada keputusan politik di kongres FIFA mendatang. Bagi penggemar di Indonesia, gelar itu nyata dan layak dirayakan; bagi kawasan, jawabannya masih menunggu waktu.

Exit mobile version