Pelatih kepala Manchester City, Enzo Maresca, menegaskan suasana di dalam skuadnya sedang “fantastis” di tengah badai kasus Manchester City yang kembali mencuat ke permukaan. Pernyataan itu keluar setelah klub dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 tuntutan yang diajukan Premier League kepadanya. Maresca memilih menyoroti hal-hal yang masih bisa dikendalikan timnya alih-alih larut dalam tekanan dari luar.
Momen ini menjadi penting karena City baru saja diterpa laporan keras soal dugaan penyamaran pendanaan raksasa, sementara kompetisi domestik kembali bergulir akhir pekan ini. Sebagian besar pemain internasional City baru kembali berlatih pada Kamis, sembilan hari setelah laporan tersebut dipublikasikan. BBC Sport melaporkan bahwa Maresca memang berencana menemui para pemainnya begitu mereka kembali dari tugas negara masing-masing.
Maresca: Suasana Skuad Fantastis di Tengah Kasus Manchester City
Dalam wawancara internal klub, Maresca mengaku suasana di ruang ganti skuadnya saat ini sangat positif. Ia menyebut para pemainnya justru bersemangat menyambut dua pertandingan berikutnya, terutama karena City sedang berada di puncak klasemen liga. Menurutnya, fokus para pemain sepenuhnya tertuju pada hal tersebut, bukan pada hiruk-pikuk di luar lapangan.
Maresca menekankan bahwa pemainnya sadar apa yang bisa dan tidak bisa mereka kendalikan. Mereka tahu bahwa “kebisingan” seputar klub memang ada, tetapi tidak mau terlalu ambil pikir terhadapnya. Saat ini perhatian mereka tercurah pada cara mengalahkan Liverpool dan bagaimana, bersama para suporter, mereka bisa mencoba menang di Anfield.
Pelatih asal Italia itu juga menyatakan dirinya merasa “tenang” dan yakin skuadnya mempercayai klub “sepenuhnya”. Sinyal kepercayaan itu disampaikan secara internal, termasuk kepada orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan staf pemain City. Pesan yang disampaikan dinilai sama tegasnya dengan sikap yang ditunjukkan ke publik.
Latar Belakang: 115 Tuntutan dan Laporan soal Kontrak Palsu
Kasus ini bermula dari laporan yang diterbitkan Premier League, sembilan hari sebelum para pemain City kembali berlatih. Laporan itu menyebut klub memakai kontrak yang disebut “palsu” untuk menyamarkan pendanaan rahasia senilai lebih dari £830 juta. Temuan tersebut menjadi dasar mengapa City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 tuntutan yang dihadapinya.
Menghadapi hal itu, City telah mengajukan banding dan secara terbuka terus mempertahankan bahwa mereka tidak bersalah. Klub belum menerima hukuman apa pun sejauh ini. BBC Sport melaporkan bahwa ada sinyal kuat bahwa Maresca akan menyapa langsung para pemainnya begitu mereka kembali menjalani tugas domestik, karena kabar putusan itu muncul saat mayoritas skuad sedang membela negaranya masing-masing.
Diketahui pula bahwa Maresca meminta para pemainnya untuk tidak membiarkan krisis yang menimpa klub memengaruhi sikap dan fokus mereka. Permintaan itu disampaikan tepat ketika kompetisi Premier League bersiap kembali bergulir pada akhir pekan ini. Dengan kata lain, seluruh elemen tim didorong untuk mengalihkan energi ke hal yang masih bisa dikontrol, yaitu sepak bola itu sendiri.
Dampak bagi Pemain dan Persaingan di Liga
Bagi para pemain, situasi ini menempatkan mereka di posisi yang rumit secara mental. Di satu sisi, mereka harus tetap tampil maksimal demi menjaga posisi di puncak klasemen; di sisi lain, mereka dikelilingi pembicaraan soal sanksi yang bisa berdampak jangka panjang. Cara Maresca menyikapinya, yakni dengan menekankan pengendalian diri atas hal yang bisa dikontrol, menjadi strategi untuk menjaga kestabilan performa.
Pendekatan itu sejalan dengan sikap yang ditunjukkan salah satu pemain kunci, Erling Haaland. Berbicara kepada Sky Sports, Haaland mengaku sangat peduli terhadap klub tempat ia menghabiskan empat tahun pertamanya. Ia menyebut City sebagai tempat yang istimewa bagi dirinya dan menegaskan bahwa dirinya juga seorang penggemar yang merasa menyatu dengan para suporter.
Haaland mengajak semua pihak untuk tetap bersama dan berpikir positif, apa pun yang terjadi dalam hidup. Ia menekankan pentingnya menyebarkan energi baik di antara satu sama lain, menikmati perjalanan yang ada, dan tetap tersenyum. Pesan itu menjadi penanda bahwa ruang ganti City berusaha menjaga atmosfer kebersamaan di tengah ketidakpastian.
Klub Lain Enggan Berkomentar, Lampard Angkat Bicara
Ketika Premier League kembali bergulir setelah jeda tiga pekan, klub-klub rival tampak enggan membiarkan pelatih mereka berkomentar terbuka soal putusan terhadap City. Sejumlah gelaran konferensi pers wajib jelang pertandingan tetap menempatkan isu ini sebagai pertanyaan yang harus dijawab. Namun, sejumlah klub dikabarkan sudah mengambil sikap tegas agar para pelatihnya tidak berkomentar.
Beberapa konferensi pers digelar pada Kamis, tetapi pelatih kepala Leeds, Daniel Farke, dan pelatih kepala Newcastle, Matthias Jaissle, sama-sama menghindari komentar panjang soal hal ini. Sementara itu, bos Coventry, Frank Lampard, memilih berbicara dari sudut pandang seorang mantan pemain. Lampard pernah membela City pada musim 2014-15 dan berpendapat bahwa para pemain tidak akan merasa gelar mereka hilang meski klub dicopot dari titelnya.
Alasannya, menurut Lampard, gelar itu sudah menjadi bagian dari sejarah pribadi seorang pemain. Ia menyebut dirinya yang pernah tiga kali menjuarai Premier League bersama Chelsea tidak memajang trofi di dinding rumah, melainkan menyimpannya di dalam ingatan. Menurutnya, sangat sulit mengambil gelar dari seorang pemain secara individual, dan ia tahu ada sebagian orang yang justru memilih memajangnya di lemari kaca.
Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya
City hingga kini belum dijatuhi hukuman, dan BBC Sport melaporkan bahwa hasrat untuk mencopot gelar-gelar masa lalu mereka tergolong kecil, baik di kalangan Premier League sebagai organisasi maupun di antara klub-klubnya. Sikap itu menunjukkan bahwa sengketa ini lebih rumit daripada sekadar soal sanksi instan. Dengan banding yang masih berjalan, hasil akhirnya pun belum bisa dipastikan.
Lampard sendiri menegaskan bahwa dirinya berada di luar cerita ini sepenuhnya dan tidak mengetahui garis waktu penyelesaiannya. Ia mengakui pernah memperkuat City pada 2014 setelah 13 tahun bersama Chelsea, dengan catatan 38 penampilan dan delapan gol. Meski demikian, ia menolak mengomentari bentuk atau besaran hukuman yang pantas dijatuhkan, karena menurutnya itu bukan perannya.
Di lapangan, City akan menghadapi ujian nyata dalam waktu dekat ketika bertandang ke markas Liverpool pada Minggu. Laga itu menjadi cara paling konkret bagi para pemain untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar mampu mengabaikan “kebisingan” seperti yang diklaim Maresca. Hasil di Anfield akan menjadi gambaran awal apakah pendekatan fokus-pada-sepak-bola itu benar-benar berjalan.
Secara keseluruhan, kasus Manchester City masih menyisakan banyak tanda tanya, mulai dari proses banding hingga potensi sanksi yang belum diputuskan. Di tengah semua itu, Maresca berusaha menjaga skuadnya tetap tenang dan terpusat pada target di lapangan, sementara Haaland menggaungkan pesan kebersamaan. Yang paling menentukan sekarang bukan sekadar narasi di luar lapangan, melainkan bagaimana City menjawabnya lewat performa di pertandingan-pertandingan berikutnya.
