Arsenal membuka perjalanan mereka di Liga Champions musim ini dengan kemenangan 1-0 atas Napoli, dan gol penentu itu lahir dari kaki Martin Odegaard. Sekitar 15 menit sebelum laga usai, kapten Arsenal tersebut melepaskan tembakan kaki kiri yang indah untuk memecah kebuntuan setelah timnya nyaris sepanjang pertandingan menggempur pertahanan Napoli tanpa hasil.
Gol di Naples itu menegaskan satu hal yang sedang menjadi perhatian banyak pengamat: Odegaard datang ke musim baru ini dalam performa terbaik sepanjang kariernya. Padahal musim lalu ia sempat tampil jauh dari standar pribadinya karena diterpa cedera. Dengan kondisi kaptennya sudah kembali utuh, Arsenal dan manajer Mikel Arteta punya alasan kuat untuk percaya bahwa mereka kali ini bisa melangkah lebih jauh daripada pencapaian musim sebelumnya.
Gol Odegaard Patahkan Perlawanan Napoli
Arsenal tampil dominan sejak awal di kandang Napoli, tetapi dominasi itu tidak serta-merta berbuah gol. Beberapa peluang emas terbuang lebih dulu, sehingga tim tamu butuh momen individu untuk benar-benar membuka jalan menuju kemenangan. Momen itu akhirnya datang dari Odegaard melalui penyelesaian kaki kiri yang tak mampu dihentikan kiper Napoli.
Napoli sendiri bermain dengan pendekatan bertahan yang disiplin, memakai pola perlindungan lini belakang yang identik dengan pendekatan yang lama dipakai pelatih veteran Max Allegri. Tembok pertahanan semacam itu memang dirancang untuk membuat tim lawan frustrasi dan kehilangan kesabaran. Namun Arsenal menunjukkan ketenangan serta kedewasaan dalam membongkarnya, bukan dengan cara terburu-buru, melainkan lewat kesabaran mengalirkan bola hingga celah akhirnya terbuka.
Kemenangan ini terasa penting bukan hanya karena tiga poin. Napoli adalah lawan yang sulit di kandang sendiri, dan hasil ini memberi Arsenal modal kepercayaan diri untuk menghadapi rangkaian laga berat berikutnya di fase grup.
Kebangkitan Odegaard setelah Musim Penuh Cedera
Musim lalu menjadi periode yang berat bagi Odegaard. Gelandang berusia 27 tahun itu diganggu cedera lutut dan bahu, sehingga hanya tampil 36 kali di semua kompetisi dengan catatan satu gol dan tujuh assist. Di Premier League, ia cuma bermain 24 kali, meski pada akhirnya Arsenal tetap meraih gelar juara yang ditunggu selama 24 tahun.
Tanda-tanda kebangkitan sebenarnya sudah muncul ketika Norwegia melaju hingga perempat final Piala Dunia, meski akhirnya tersingkir oleh Inggris. Namun musim ini, levelnya naik ke tahap yang berbeda. Ia mengawali musim dengan kontribusi nyata di berbagai ajang, menjadikannya sosok yang hampir selalu hadir di momen-momen penting.
Buktinya berderet. Saat Arsenal menekuk Manchester City 3-0 di Cardiff pada laga Community Shield, Odegaard menutup kemenangan dengan gol yang terbilang kurang ajar: ia membuat kiper Gianluigi Donnarumma terjatuh lebih dulu sebelum dengan tenang memasukkan bola ke gawang kosong. Ia kemudian mencetak gol dalam kemenangan 3-0 atas Coventry City, lalu menjadi penentu saat Arsenal bangkit dari ketertinggalan untuk menaklukkan Chelsea 2-1 di Emirates Stadium.
Gol ke gawang Chelsea itu lahir dari lari masuk kotak penalti yang cerdas dan tepat waktu, memanfaatkan umpan tipuan Kai Havertz sebelum penyelesaiannya melewati kiper Emiliano Martinez. Pola yang sama terlihat di Naples. Ini adalah permainan seorang pemain bertalenta besar yang akhirnya kembali berada di puncak kekuatannya, dalam kondisi sepenuhnya fit, dan bermain di tim yang penuh keyakinan setelah meraih kesuksesan yang lama dinanti.
26 Tembakan Arsenal, Sinyal Superioritas di Naples
Gol Odegaard boleh jadi penentu, tetapi angka menunjukkan betapa besar dominasi Arsenal sepanjang laga. Tim asuhan Arteta melepaskan 26 tembakan, jumlah terbanyak mereka dalam satu pertandingan Liga Champions sejak pencatatan data mulai dilakukan pada musim 2003-04. Angka itu juga menjadi yang terbanyak yang pernah dihadapi Napoli dalam periode yang sama.
Arteta sendiri mengakui bahwa timnya seharusnya tidak perlu menunggu sampai 15 menit terakhir untuk menyegel hasil. Menurutnya, banyaknya peluang yang tercipta seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana.
“Martin berkontribusi lewat gol-gol yang memengaruhi hasil, dan itulah yang kami inginkan dari para pemain menyerang kami, yaitu menjadi penentu,” kata Arteta. “Kami seharusnya menyelesaikannya dengan cara berbeda mengingat banyaknya peluang yang kami ciptakan.”
Arteta juga memuji mentalitas yang ditunjukkan kaptennya. “Ini yang kami butuhkan: pemain dengan pola pikir untuk menentukan pertandingan, bermain dengan kepribadian, dan terus mengambil risiko. Dalam laga-laga terakhir ia semakin sering masuk ke posisi-posisi itu. Itu gol yang luar biasa,” ujarnya.
“Ketika Odegaard Terbaik, Arsenal Juga Terbaik”
Pandangan senada datang dari mantan bek Premier League, Nedum Onuoha, yang menjadi komentator dalam program Match of the Day. Menurutnya, Odegaard tampil seperti pemain yang punya sesuatu untuk dibuktikan musim ini.
“Ia ingin memberi dampak yang lebih besar bagi tim ini,” kata Onuoha. “Ada urusan yang belum selesai bagi mereka di Liga Champions. Ia ingin menjadi kapten Arsenal pertama yang mengangkat trofi itu.”
Onuoha menilai Arsenal punya peluang nyata untuk mewujudkan ambisi tersebut jika melihat penampilan mereka di kompetisi ini dua musim terakhir. Namun ia menekankan satu syarat utama: Odegaard harus berada dalam performa terbaiknya.
“Ia benar-benar membawa Arsenal ke level berbeda saat sedang dalam performa terbaik dan bermain seperti ini. Menurut saya, ketika ia bermain terbaik, Arsenal juga tampil terbaik,” ujarnya. “Ada masa ketika ia tidak dalam kondisi terbaik dan timnya tetap terlihat bagus dan menang, tetapi versi terbaik Arsenal menurut saya lahir ketika Odegaard mengatur permainan, karena begitu banyak pemain lain yang terlibat dalam cara mereka menyerang, dan pola serangan mereka akan terlihat berbeda.”
Ujian Berat Menanti Arsenal di Liga Champions
Kemenangan di Naples dibutuhkan Arsenal karena jadwal fase grup tidak memberi ruang untuk bersantai. Di depan, mereka masih harus menghadapi laga kandang melawan Real Madrid dan bertandang ke markas Bayern Munich. Dua laga itu akan menjadi tolok ukur seberapa jauh kesiapan skuad Arteta musim ini.
Liga Champions sendiri masih menjadi trofi yang sulit diraih Arsenal. Mereka pernah kalah di final dari Barcelona pada 2006, dan musim lalu takluk dari Paris Saint-Germain melalui adu penalti. Trofi itu masih menjadi target yang belum terwujud, semacam cawan suci yang terus mereka kejar.
Jika Odegaard mampu menjaga performa gemilangnya, peluang Arsenal untuk melewati batas yang selama ini tak terlewati akan meningkat tajam. Sebaliknya, cedera atau penurunan bentuk permainannya bisa kembali membuat ambisi itu menggantung, seperti yang terjadi musim lalu.
Kesimpulan
Kemenangan 1-0 Arsenal atas Napoli bukan sekadar tiga poin, melainkan penanda bahwa Odegaard telah kembali ke level terbaiknya. Gol kaki kirinya di Naples melengkapi rangkaian kontribusi penting sejak awal musim, mulai dari Community Shield, laga kontra Coventry City, hingga kemenangan atas Chelsea. Dengan dominasi 26 tembakan yang mencatatkan rekor, Arsenal menunjukkan bahwa mereka bukan hanya menang, tetapi mengendalikan pertandingan.
Namun perjalanan masih panjang, dan ujian sesungguhnya baru akan datang lewat pertemuan dengan Real Madrid serta Bayern Munich. Jika Odegaard terus memimpin dengan performa seperti ini, Arsenal punya alasan untuk percaya bahwa trofi Liga Champions yang selama ini menghindar akhirnya berada dalam jangkauan.
