Derek McInnes akhirnya bisa bernapas lega. Rangers menaklukkan Celtic 1-0 di Celtic Park pada laga Liga Skotlandia, hanya beberapa hari setelah membungkam rival abadi mereka 3-0 di Ibrox pada ajang Piala Liga. Dua kemenangan derby Old Firm dalam sepekan itu sekaligus menjadi kemenangan keenam beruntun bagi Rangers dan memangkas jarak mereka dengan Celtic menjadi hanya dua poin di papan klasemen.
Bagi McInnes, capaian ini terasa seperti pembalikan total dari narasi yang sempat menempel pada dirinya. “Saat ini saya senang menautkan nama saya dengan tim ini,” ujar sang manajer seusai pertandingan. Pernyataan itu bukan tanpa alasan: skuad Rangers yang tampil di Celtic Park kini mulai terlihat sebagai tim yang dibangun sesuai gambaran dan karakter sang pelatih, bukan sekadar kumpulan pemain yang kehilangan arah seperti pada awal musim.

Rangers Kini Tampil Seperti Tim Racikan Derek McInnes
Perubahan wajah Rangers dalam tiga hingga empat pekan terakhir menjadi sorotan banyak pihak, termasuk mantan gelandang klub tersebut, Andy Halliday. Dalam program Sportsound di BBC Scotland, ia mengingatkan kembali bagaimana situasi sebulan sebelumnya ketika McInnes berada di bawah tekanan besar dan dipertanyakan soal identitas permainan timnya.
“Hal yang cukup membingungkan banyak orang saat itu adalah: ini tidak terlihat seperti tim Derek McInnes. Mereka tidak tampak terorganisir tanpa bola, tidak agresif, dan tidak atletis,” kata Halliday. Menurutnya, narasi itu kini berbalik sepenuhnya, dan apa yang ia saksikan di laga derby adalah versi Rangers yang selama ini diasosiasikan dengan sang manajer.
Halliday menggambarkan ciri khas tersebut secara gamblang: bermain di depan, agresif, berani melakukan kontak fisik dengan lawan, serta langsung mengalirkan bola ke depan begitu berhasil merebutnya. Cara bermain seperti itu, katanya, membuat Celtic berada dalam tekanan terus-menerus selama sebagian besar pertandingan. Kemenangan ini pun menegaskan bahwa Rangers bukan lagi tim yang mudah digoyang oleh tekanan laga besar.
Awal Musim Kelam dan Beban Kritik yang Harus Ditanggung
Perjalanan Rangers musim ini tidak selalu semulus pekan terakhir. Awal kompetisi berjalan lambat, dan tim dihantam dua kegagalan menyakitkan di Eropa, yakni tersingkir dari Europa League serta Conference League. Hasil buruk itu memicu kekhawatiran besar di kalangan pendukung Rangers, terutama karena tim mereka mulai tertinggal dari laju poin Celtic dan tampak benar-benar kehilangan identitas permainan.
McInnes sendiri mengakui dirinya masih merasa “malu” dengan kegagalan di kompetisi Eropa tersebut dan menyebut kritik pada awal musim sangat sulit dijawab. Namun latar belakangnya sebagai pelatih menunjukkan ia mampu membenahi persoalan seperti ini. Dengan lebih dari 800 pertandingan sebagai manajer, ia sudah lama dikenal sanggup mengorganisasi dan memotivasi tim agar sulit dikalahkan saat tidak menguasai bola.
Rekam jejak itu terlihat jelas musim lalu ketika timnya, Hearts, nyaris memenangi gelar liga dan mencatatkan jumlah kebobolan paling sedikit di seluruh Premiership. Kemampuan yang sama kini mulai terlihat di Rangers. Setelah hanya mencatat satu clean sheet pada tujuh laga pertama musim ini, Rangers kini hanya kebobolan satu kali dalam enam pertandingan terakhir mereka.
Soliditas Pertahanan Jadi Fondasi Kebangkitan
Pondasi kebangkitan Rangers berdiri di atas lini pertahanan yang rapat. Dujon Sterling, yang bermain di posisi terbaiknya sebagai bek kanan, membentuk unit yang secara fisik sangat kuat bersama Emmanuel Fernandez dan Olwethu Makhanya di jantung pertahanan. Kekompakan ketiganya memberi kebebasan bagi James Penrice untuk naik menyerang dari sisi kiri dan menambah jumlah pemain Rangers di lini tengah.
Fernandez memang masih kerap kehilangan konsentrasi. Ia beruntung tidak diusir keluar lapangan di Celtic Park setelah menerima kartu kuning awal karena menjatuhkan Camilo Duran, lalu melakukan tekel berbahaya terhadap Benjamin Nygren yang luput dari hukuman. Meski begitu, setelah kembali tenang, ia berhasil menepis semua bola yang masuk ke kotak penalti Rangers dengan catatan 11 penyapuan bola.
Di sampingnya, Makhanya menghadirkan ketenangan dan otoritas permainan hingga dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. Berkat kerja lini belakang tersebut, Celtic yang bermain di kandang hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran sepanjang laga. Di depan keduanya, Dan Neil dan Nico Raskin tampil menonjol dengan menjadi pemain yang paling banyak mengoper bola di kubu Rangers, selalu siap menerima umpan dan tidak ragu masuk ke dalam duel.
Menariknya, Rangers secara keseluruhan membuat 75 operan lebih sedikit daripada Celtic. Namun di area pertahanan lawan, mereka justru unggul 50 operan. Jika operan Celtic sering berpindah di antara bek tengah, Neil dan Raskin lebih banyak menemukan rekan setim di area yang lebih maju. “Lini tengah saya kembali tampil luar biasa,” kata McInnes. “Celtic memenuhi lini tengah, kami mengisinya dengan lebih banyak pemain lagi, dan kami memastikan tidak akan kalah jumlah di sana.”
Naderi Memimpin Serangan Rangers
Masalah lain muncul ketika kapten Lawrence Shankland mengalami cedera hamstring saat melawan Motherwell, tepat setelah ia mulai rutin mencetak gol. Situasi itu memunculkan pertanyaan baru bagi Rangers: mampukah Naderi dan rekrutan anyar senilai £9 juta, Kevin Kelsy, mengisi kekosongan tersebut? Keraguan itu cukup wajar, mengingat Naderi belum sepenuhnya meyakinkan musim lalu setelah pindah pada Januari dari klub divisi ketiga Jerman, Hansa Rostock.
Kini, pemain berusia 23 tahun itu telah mengoleksi empat gol dalam 13 pertandingan, jumlah yang lebih banyak daripada capaiannya pada paruh kedua musim lalu. Golnya di Celtic Park adalah jenis penyelesaian yang ingin terus dilihat Rangers: ia mengintai dan menyambar bola yang ditepis dari tembakan Kim Min-su, kemudian menempatkan lututnya di atas bola dan menuntaskan peluang dengan cermat.
Selain gol tersebut, pemain Jerman itu membantu menentukan nada permainan tim. Ia terlibat dalam 34 duel, 18 di antaranya terjadi di udara, dan memenangi 11 duel. Kerja kerasnya begitu luar biasa hingga ia masih terengah-engah saat wawancara seusai pertandingan. Sebagai tambahan atas kehadiran fisiknya, ia mencatatkan jumlah tembakan dan sentuhan terbanyak di kotak penalti Celtic.
Mantan penyerang Rangers, Kris Boyd, menilai permainan menyeluruh Naderi sangat baik. “Dia dan Kelsy tidak banyak melakukan kombinasi umpan, tetapi mereka bekerja sama. Jika satu turun ke bawah, yang lain berlari ke belakang,” ujar Boyd kepada Sky Sports. Ia menilai tenaga lari Naderi menjadi kunci bagi Rangers dan mengakui masih ada nuansa mentah dalam permainannya, namun ada banyak hal yang bisa dikembangkan. Menurut Boyd, jika McInnes mampu membentuknya menjadi penyerang yang utuh, Naderi bisa menjadi sosok yang sangat berharga karena pekerja keras sekaligus tajam dalam penyelesaian akhir.
Mampukah Rangers Menjaga Momentum?
McInnes sadar betul bahwa dengan investasi yang besar pada skuad Rangers saat ini, performa dan hasil seperti dalam sepekan terakhir akan dituntut muncul setiap pekan. Tekanan itu bisa jadi lebih terasa karena mereka tidak lagi memiliki beban kompetisi Eropa yang harus dijalani di tengah jadwal padat.
Meski demikian, Rangers tetap merupakan salah satu kelompok pemain termuda di liga dengan rata-rata usia 24 tahun. Absennya sang kapten berpengalaman, Shankland, hanya menambah kesan bahwa tim ini masih berada dalam proses pendewasaan. Mantan winger Rangers, Peter Lovenkrands, dalam wawancaranya dengan BBC Radio Scotland, menyebut tim akan memperoleh kepercayaan diri yang besar dari keberhasilan mengalahkan rival mereka dua kali berturut-turut.
McInnes sepakat bahwa hasil ini harus dijadikan titik awal, bukan tujuan akhir. Catatan pribadinya pun istimewa: ia menjadi manajer Rangers pertama sejak era Graeme Souness yang mampu memenangi dua laga derby pertamanya. Fondasi itu memberinya ruang untuk terus membangun tim. “Ada banyak ruang untuk berkembang di tim ini,” ujarnya. “Menang di tempat seperti ini hanya membantu. Tetapi masih banyak laga liga yang harus dimenangi dan kami harus fokus pada itu.”
Sang manajer juga menegaskan bahwa konsistensi adalah hal yang sedang mereka cari. Menurutnya, pada awal musim tim tidak terlihat siap dan tidak tampak tenang, serta kurang membawa ancaman di lini serang. Kini, setelah bekerja keras dan menekuni detail permainan, Rangers berharap kebiasaan menang bisa terus dipelihara. Kemenangan enam kali beruntun menjadi bukti bahwa proses tersebut mulai membuahkan hasil.
Bagi Rangers, dua kemenangan derby dalam sepekan bukan hanya soal tiga poin atau satu tiket ke babak berikutnya. Hasil tersebut mengembalikan kepercayaan diri pemain, mengubah cara pandang publik terhadap McInnes, dan mengembalikan identitas permainan yang sempat hilang. Jarak dua poin dari Celtic membuat persaingan di papan atas kembali terbuka.
Tantangan sesungguhnya baru dimulai. Konsistensi melawan tim-tim yang lebih kecil sering kali menjadi ujian tersulit, terutama bagi skuad muda yang sedang mencari jati diri. Jika Rangers mampu mempertahankan intensitas, soliditas pertahanan, dan ketajaman lini depan seperti yang terlihat di Celtic Park, kebangkitan di bawah Derek McInnes bisa berubah dari sekadar tren jangka pendek menjadi fondasi yang nyata.