Mantan penyerang Manchester City, Imre Varadi, menyebut kembalinya tradisi banana Man City di Anfield sebagai pemandangan yang “luar biasa”. Puluhan pendukung mengibarkan banana tiup saat City menang 3-0 atas Liverpool pada laga Minggu, dan bagi Varadi momen itu membawa kembali keceriaan yang lama absen dari tribun stadion.
Pria yang pernah dijuluki “Imre Banana” oleh pendukung City pada akhir 1980-an itu mengaku senang melihat budaya lama klubnya hidup lagi. Reaksi Varadi menjadi perhatian karena ia adalah sosok yang dianggap memulai tren tersebut. Laga di Anfield sendiri bukan pertandingan biasa, sebab menjadi penampilan pertama City setelah klub dinyatakan bersalah atas 114 dakwaan terkait pelanggaran aturan keuangan Premier League.
Reaksi Imre Varadi atas Kembalinya Banana Tiup
Berbicara kepada BBC Radio 5 Live Drive, Varadi mengaku terkesan dengan apa yang dilakukan para pendukung City di Anfield. Ia menilai aksi tersebut menghidupkan kembali suasana gembira yang dulu melekat pada sepak bola Inggris. “Itu luar biasa, ini membawa banyak keceriaan kembali ke dalam sepak bola,” ujarnya.
Varadi juga menyoroti kualitas pertandingan itu sendiri, namun menurutnya yang paling menarik justru sisi di luar lapangan. Ia mengaku senang melihat demam benda tiup dari era 1980-an muncul lagi, persis seperti saat ia masih bermain di Maine Road. “Pertandingannya jelas pertandingan yang hebat, tapi melihat demam benda tiup kembali dari era 80-an ketika saya bermain di Maine Road yang lama, itu sungguh menyenangkan,” tambahnya.
Baginya, pemandangan tersebut punya nilai emosional tersendiri karena berkaitan erat dengan identitas dirinya sebagai pemain City. Ia mengaku bangga tren yang ia mulai puluhan tahun lalu masih bertahan hingga sekarang. Menurut Varadi, hal semacam itu jarang terjadi dalam dunia sepak bola modern yang serba komersial.
Sejarah Tradisi Banana Man City dan Julukan Imre Banana
Tradisi banana Man City bermula ketika Varadi memperkuat klub pada pertengahan 1980-an. Ia bergabung dari West Brom pada Oktober 1986 dan mencetak 26 gol dalam 65 penampilan sebelum pindah ke Sheffield Wednesday pada September 1988. Selama dua tahun masa baktinya itulah pendukung City mulai mengadopsi banana tiup sebagai atribut khas mereka.
Menurut Varadi, julukan itu muncul begitu saja dari tribun. “Seseorang mulai memanggil saya Imre Banana, lalu di pertandingan berikutnya ada 10, 20, 25 banana, dan kemudian berkembang terus sampai setiap klub sepak bola punya benda tiup,” kenangnya. Sejak saat itu, banana tiup menjadi semacam simbol tidak resmi bagi pendukung City.
Kebiasaan membawa banana tiup ini muncul ketika City bermain di Divisi Kedua kompetisi lama. Tradisi tersebut berlanjut hingga awal 1990-an, lalu dilakukan secara berkala pada tahun-tahun berikutnya. Pada laga di Anfield, puluhan banana tiup kembali muncul di antara penonton. Varadi sendiri kini bahkan menjual banana tiup melalui klub, dan akun X miliknya memakai nama @imre_banana. Ia mengakui bahwa semua ini dimulai 40 tahun silam, namun masih bertahan kuat sampai sekarang. “Saya yang memulainya, dan saya sungguh bangga,” katanya.
Makna Banana Tiup di Tengah Badai Sanksi 114 Dakwaan
Aksi para pendukung City di Anfield tidak bisa dilepaskan dari situasi yang sedang dihadapi klub. Pertandingan itu menjadi laga pertama City setelah dinyatakan bersalah atas 114 dakwaan pelanggaran aturan keuangan Premier League antara musim 2009-10 dan 2017-18. Klub kini menghadapi kemungkinan sanksi berat, mulai dari pengurangan poin hingga pengeluaran dari kompetisi.
Di tengah ketidakpastian itu, pendukung City memilih membawa banana tiup ke Anfield sebagai bentuk sindiran halus. Mereka mengingatkan kembali masa ketika klub menjadi tim “yo-yo” yang naik-turun kasta pada 1980-an. Pilihan itu seolah menegaskan bahwa identitas suporter City tidak bergantung pada status kompetisi atau trofi yang mereka raih.
Menariknya, Varadi menilai momen tersebut justru membawa kegembiraan bagi sepak bola secara umum. “Ini membawa banyak kegembiraan bagi sepak bola. Senang sekali melihatnya,” ucapnya. Dengan kata lain, atribut sederhana itu berfungsi sebagai bahasa bersama yang menyatukan suporter ketika klub berada dalam tekanan besar.
Dampak bagi Klub, Suporter, dan Sepak Bola Inggris
Bagi Manchester City, kembalinya banana tiup di Anfield menambah lapisan cerita pada musim yang tengah berjalan dalam ketidakpastian. Kemenangan 3-0 atas Liverpool secara teknis merupakan hasil penting, tetapi perhatian publik justru terbelah antara performa tim dan proses hukum yang membayangi klub. Situasi ini membuat setiap pertandingan City berpotensi menjadi panggung ekspresi suporter.
Bagi para pendukung, banana tiup berfungsi sebagai cara berkomunikasi tanpa perlu spanduk atau nyanyian bernada protes. Aksi seperti ini biasanya lebih mudah diterima karena dianggap tidak menyerang pihak tertentu. Efeknya, pesan yang disampaikan tetap sampai ke publik luas tanpa memicu gesekan tambahan.
Dari sisi industri, fenomena ini memperlihatkan bahwa budaya suporter bisa bertahan jauh lebih lama daripada tren taktik atau prestasi di lapangan. Klub-klub besar Inggris memang memiliki tradisi khas masing-masing, tetapi tidak semuanya mampu bertahan hampir empat dekade. Popularitas atribut tiup pada 1980-an dulu bahkan menyebar ke banyak klub, dan menurut Varadi itulah bukti besarnya pengaruh tren tersebut.
Ketegangan seputar sanksi juga membuat posisi City di peta kompetisi Premier League menjadi sorotan. Jika sanksi berat benar-benar dijatuhkan, lanskap persaingan papan atas bisa berubah signifikan. Meski demikian, sumber tidak menyebutkan kapan keputusan akhir akan diambil maupun bentuk sanksi yang paling mungkin diterapkan.
Dari Maine Road ke Seluruh Inggris: Warisan Tren Benda Tiup
Apa yang dimulai di tribun Maine Road pada pertengahan 1980-an ternyata meluas jauh melampaui Manchester. Varadi mengisahkan bagaimana jumlah banana tiup di setiap pertandingan terus bertambah hingga akhirnya klub-klub lain ikut memiliki atribut tiup khas mereka sendiri. Ini menjadikan periode tersebut sebagai salah satu fenomena budaya suporter yang paling mudah dikenali di Inggris.
Selama beberapa dekade, kebiasaan membawa banana tiup sempat meredup dan hanya muncul sesekali. Kemunculannya kembali di Anfield menunjukkan bahwa simbol semacam ini bisa dihidupkan lagi kapan saja. Selama klub masih memiliki basis suporter yang kuat, warisan budaya seperti ini berpeluang terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Insiden di Luar Stadion Usai Laga
Selain sorotan soal banana tiup, laga Liverpool melawan Manchester City juga diwarnai insiden di luar lapangan. Dilaporkan ada seorang petugas polisi yang mengalami cedera setelah pertandingan tersebut. Detail mengenai kronologi maupun kondisi petugas itu belum dijelaskan secara rinci dalam sumber.
Kabar ini menjadi pengingat bahwa pertemuan dua klub besar Inggris kerap menghadirkan tantangan tersendiri bagi aparat keamanan. Pengaturan lalu lintas dan pengamanan massa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan laga bertensi tinggi. Sementara itu, kemenangan City atas Liverpool sendiri dinilai sebagian pengamat punya nuansa berbeda karena musim yang masih berjalan dalam ketidakpastian.
Penutup
Kembalinya banana tiup di Anfield menjadi momen kecil yang menyatukan banyak hal sekaligus: nostalgia era 1980-an, identitas suporter Manchester City, dan ekspresi sikap di tengah tekanan sanksi. Imre Varadi, sosok di balik julukan “Imre Banana”, menyambut baik kebangkitan tradisi tersebut dan menyebutnya membawa kegembiraan bagi sepak bola. Puluhan banana yang berkibar di tribun membuktikan bahwa warisan budaya suporter bisa bertahan jauh lebih lama daripada masa jabatan seorang pemain.
Sementara masa depan City di Premier League masih menunggu kejelasan, satu hal sudah terlihat jelas di Anfield: pendukung klub tidak kehilangan cara untuk menunjukkan jati diri mereka. Tradisi sederhana yang lahir hampir 40 tahun lalu itu nyatanya masih mampu menghadirkan keceriaan, bahkan ketika klub sedang berada di bawah bayang-bayang hukuman berat.
