Krisis Pertahanan Chelsea, Xabi Alonso Keluhkan Tim ‘Soft’

Krisis pertahanan Chelsea kembali mencuat setelah tim asuhan Xabi Alonso hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Hull pada laga akhir pekan. Hasil itu membuat Chelsea, yang justru produktif di lini serang, terus kebobolan, dan Alonso sendiri mengakui bahwa anak asuhnya terlalu “soft” dalam duel-duel perebutan bola. Kegagalan meraih kemenangan di kandang sendiri jelas meninggalkan rasa kecewa, terutama karena Hull tampak lebih berpeluang mencetak gol kemenangan.

Persoalan ini sebenarnya bukan barang baru. Chelsea sudah mengalaminya jauh sebelum Alonso datang, dan kini mereka tercatat tidak pernah mencatatkan clean sheet dalam 20 pertandingan liga berturut-turut sejak Januari. Itu menjadi rentetan terpanjang dalam 65 tahun, sebuah angka yang menunjukkan bahwa masalahnya bersifat struktural, bukan sekadar kesalahan sesaat di satu atau dua laga. Bagi tim yang bercita-cita tinggi, kombinasi serangan tajam dan pertahanan rapuh seperti ini menjadi paradoks yang harus segera dipecahkan.

Xabi Alonso

Statistik di Balik Imbang 2-2 Chelsea Kontra Hull

Chelsea sebenarnya tampil menghibur dalam laga melawan Hull. Morgan Rogers membuka keunggulan lebih awal, lalu Joao Pedro menyamakan kedudukan di babak kedua, dengan Cole Palmer terlibat dalam kedua gol tersebut. Meski begitu, tambahan dua gol itu hanya membawa koleksi gol Chelsea musim ini menjadi 10, dan mereka tetap harus puas dengan satu poin saja.

Masalahnya ada di sisi sebaliknya. Chelsea telah kebobolan dua gol atau lebih pada masing-masing dari empat laga pembuka kompetisi liga musim ini, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam 11 tahun terakhir. Secara total, gawang Chelsea sudah kebobolan sembilan kali di kompetisi domestik, dan hanya Crystal Palace serta Ipswich Town yang catatan kebobolannya lebih buruk dari angka tersebut.

Data tersebut memperjelas satu hal: performa defensif Chelsea saat ini berada di level yang jauh dari standar yang diharapkan. Statistik bukan hanya menunjukkan kebetulan buruk, melainkan pola yang berulang dari laga ke laga. Selama pola itu tidak berubah, hasil imbang dan kekalahan akan terus menghantui tim meski lini serang tetap menakutkan.

Kronologi Eksperimen Formasi Xabi Alonso

Alonso tampaknya masih berada dalam fase mencari formula terbaik. Dalam rentang satu pekan saja, ia mengubah bentuk permainan pada tiga pertandingan berturut-turut, mulai dari kekalahan di markas Arsenal, kemenangan 6-3 atas Leeds di ajang Carabao Cup, hingga kembali berubah saat menghadapi Hull. Pergantian formasi yang cepat itu menandakan bahwa ia belum menemukan susunan yang benar-benar pas untuk skuadnya.

Sayangnya, eksperimen tersebut belum membuahkan hasil yang diinginkan. Justru Hull yang terlihat lebih berpeluang mencetak gol kemenangan, dan suasana di Stamford Bridge pun terasa suram setelah pertandingan berakhir. Alonso menyimpulkan perasaan itu dengan mengatakan bahwa timnya perlu “bersaing lebih baik” dan tidak boleh “soft” dalam duel-duel fisik.

Menariknya, Alonso menegaskan bahwa keputusannya beralih ke formasi empat bek bukanlah obat untuk masalah pertahanan belakangan ini. Menurutnya, persoalannya lebih kepada profil para pemain, bukan semata soal tiga atau empat bek di lini belakang. Ia mencontohkan Malo Gusto yang ditempatkan di posisi bagus dan berusaha menghubungkan permainan di sisi kanan, sehingga dalam pandangannya perubahan itu tidak terlalu signifikan.

Ia juga menjelaskan bahwa penarikan Jorrel Hato pada jeda babak merupakan keputusan taktis, bukan bentuk hukuman atas kesalahannya. Namun pergantian itu tetap menyiratkan bahwa Alonso belum puas dengan komposisi lini belakangnya. Sampai titik ini, rotasi dan perubahan bentuk belum mampu menutup celah yang terus dimanfaatkan lawan.

Kesalahan Individu dan Kritik Tajam dari Pundit

Selain persoalan kolektif, laga melawan Hull juga diwarnai kesalahan individu yang berujung fatal. Jorrel Hato salah membaca umpan silang sebelum Hull menyamakan kedudukan, sementara gol kedua Mohamed Belloumi lahir setelah Chelsea gagal menyapu bola dari situasi sepak pojok. Dua momen itu menegaskan bahwa konsentrasi dan ketenangan di momen-momen krusial masih menjadi titik lemah.

Di sisi lain, penampilan kiper Chelsea Emiliano Martinez justru mendapat pujian tak terduga. Pelatih Hull, Sergej Jakirovic, bahkan menyebut Martinez sebagai “man of the match” setelah kiper asal Argentina itu menepis peluang Oli McBurnie, Mohamed-Ali Cho, dan Lucas Herrington. Artinya, tanpa penyelamatan-penyelamatan tersebut, hasil akhir pertandingan bisa jauh lebih buruk bagi Chelsea.

Kritik paling tajam datang dari mantan bek yang kini menjadi pundit BBC, Ashley Williams. Ia menilai Chelsea kacau dalam transisi dan terbuka lebar setiap kali kehilangan bola, serta menyebut gol-gol yang mereka kebobolan sebagai kesalahan dasar. Williams menambahkan bahwa baik secara individu maupun sebagai unit pertahanan, Chelsea masih jauh dari standar, dan dengan cara bertahan seperti itu mereka tidak akan mencapai target musim ini.

Penjelasan Xabi Alonso Soal Solusi Pertahanan Chelsea

Dalam konferensi pers usai laga, Alonso tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengakui timnya memiliki satu atau dua peluang emas untuk mencetak gol kemenangan, tetapi tetap saja terlalu terbuka di belakang. “Tidak senang. Kami bisa lebih baik. Kami mendapat apa yang kami layak,” ujarnya, seraya menekankan bahwa timnya harus lebih solid dan lebih terkontrol.

Alonso juga meminta waktu, dengan alasan skuad dan staf kepelatihan masih baru sehingga proses adaptasi belum selesai. Ia yakin dalam beberapa bulan ke depan timnya mampu mengontrol pertandingan dengan lebih baik. Namun ia menyadari bahwa pola kesalahan yang sama masih terus terulang dari laga ke laga.

Salah satu keluhan utamanya adalah bagaimana Chelsea kehilangan kendali setelah unggul. Menurut Alonso, timnya harus tetap kompetitif dan tidak memberi lawan kesempatan untuk bangkit dengan mudah, terutama pada gol pertama Hull yang dinilainya bisa dicegah dengan jauh lebih baik. Ia menyebut sikap terlalu “soft” dalam memberi harapan kepada lawan telah mengubah momentum, suasana, dan skor pertandingan, serta berdampak langsung pada performa tim saat ini.

Ia bahkan berharap suatu hari nanti laga Chelsea disebut membosankan asalkan timnya menang tanpa memberi momen-momen menghibur bagi lawan. Pernyataan itu menggambarkan bahwa prioritas Alonso saat ini adalah soliditas, bukan tontonan atraktif. Baginya, permainan menghibur tidak ada artinya jika poin terus melayang.

Masalah Lini Tengah dan Kegagalan di Bursa Transfer

Persoalan Chelsea tidak berhenti di lini belakang. Dengan Moises Caicedo yang masih cedera, tim ini terlihat kekurangan kualitas sekaligus jumlah pemain di sektor tengah. Kondisi itu membuat beban pertahanan semakin berat karena lini tengah kesulitan melindungi barisan belakang.

Upaya menambah amunisi di bursa transfer pun menemui jalan buntu. Monaco membatalkan kesepakatan senilai £47 juta untuk mendatangkan gelandang Lamine Camara pada deadline day, setelah Chelsea lebih dulu mencoba merekrut Manu Kone dari Roma dan Sander Berge dari Fulham sebagai opsi alternatif. Kegagalan itu meninggalkan celah yang harus ditutup dengan pemain yang ada saat ini.

Ironisnya, rekrutan kunci di lini pertahanan, Maxence Lacroix, justru tidak dimainkan pada laga Sabtu. Sampai sekarang belum ada satu pun opsi pertahanan yang benar-benar menonjol musim ini, meskipun lini serang Chelsea tetap dalam performa tajam. Ketimpangan antara sektor depan dan belakang inilah yang membuat hasil imbang terasa seperti peluang yang terbuang.

Tekanan juga datang dari tribun. Beberapa pemain seperti Malo Gusto mendapat kritik dari pendukung, dan pergantian dirinya dalam laga itu justru disambut sorak oleh fans Chelsea sendiri di Stamford Bridge. Situasi ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan tidak hanya datang dari ruang ganti atau ruang pers, tetapi juga dari penonton yang membayar mahal untuk melihat timnya menang.

Ujian Berikutnya: Brentford dan Jeda Internasional

Perhatian kini beralih ke lawatan ke markas Brentford pada hari Jumat, yang menjadi laga terakhir sebelum jeda internasional selama tiga pekan. Brentford dikenal berbahaya dalam situasi bola mati, sehingga laga ini berpotensi menjadi ujian berat bagi pertahanan Chelsea yang sedang rapuh. Kekhawatiran menjelang pertandingan itu pun semakin besar mengingat lawan memiliki kemampuan memanfaatkan celah sekecil apa pun.

Namun Alonso menegaskan bahwa masalah Chelsea bukan hanya soal bola mati. Mayoritas gol yang mereka kebobolan justru lahir dari permainan terbuka, dan hal itu ia akui secara terbuka. Menurutnya, secara keseluruhan timnya menyerang lebih baik daripada bertahan di setiap bagian permainan, dan dinamika kebobolan ini sama sekali tidak ia sukai meski musim baru berjalan empat laga.

Ia menyebut bola panjang, ketangguhan, dan semangat kompetitif sebagai aspek-aspek yang harus segera dibenahi, bukan hanya organisasi bertahan. Karena jendela transfer baru akan dibuka kembali pada Januari, Alonso tidak punya pilihan selain memperbaiki semuanya di lapangan latihan. Inilah fase yang menentukan apakah Chelsea mampu mengubah pola buruk menjadi fondasi yang lebih kokoh.

Secara keseluruhan, krisis pertahanan Chelsea bukan sekadar soal kebobolan sembilan gol dalam empat laga atau rentetan 20 pertandingan tanpa clean sheet. Ada persoalan formasi yang masih dicari, kesalahan individu yang berulang, lini tengah yang tipis karena cedera, hingga kegagalan mendatangkan gelandang baru di bursa transfer. Semua faktor itu saling terkait dan membuat tugas Xabi Alonso jauh lebih rumit daripada sekadar mengganti susunan bek.

Yang menghibur bagi Chelsea adalah lini serang mereka masih tajam dengan 10 gol, dan Alonso sendiri percaya proses ini membutuhkan waktu. Namun sepak bola tidak memberi banyak ruang untuk menunggu, terutama dengan laga sulit di markas Brentford yang sudah menanti. Jika pola kebobolan ini berlanjut, target musim ini berisiko pupus jauh sebelum Januari tiba.