Matthias Jaissle Tak Ubah Gaya Emosional di Touchline

Matthias Jaissle menegaskan bahwa gaya emosionalnya di pinggir lapangan (touchline) tidak akan berubah meski kini ia resmi menangani Newcastle United di Premier League. Pelatih berusia 38 tahun itu bahkan mengaku sedikit khawatir bagaimana wasit akan menyikapi perilakunya yang penuh semangat tersebut. Pernyataan ini disampaikan Jaissle dalam konferensi pers perdananya di St James’ Park.

Momen perkenalan itu sendiri diawali dengan jabat tangan yang hangat, tetapi semua pihak paham bahwa Jaissle tidak akan selalu tampak ramah dalam beberapa pekan ke depan. “Hanya untuk pertama kali ini, kawan-kawan,” ujarnya sambil menyapa para jurnalis di ruang media. Jaissle yang mengenakan setelan hitam dan kemeja abu-abu memang tampil tenang, namun mereka yang mengenalnya sejak lama menyebut perbedaan antara persona di dalam dan di luar lapangan seperti Jekyll dan Hyde.

Matthias Jaissle

Jaissle Akui Khawatir dengan Reaksi Wasit

“Saya tidak akan mengubah gaya saya karena itu adalah kepribadian saya,” kata mantan pelatih Al-Ahli dan RB Salzburg tersebut. “Di pinggir lapangan, saya emosional, tetapi saya perlu lebih menghormati batas area teknis.” Jaissle juga jujur mengaku takut wasit akan terlalu ketat terhadap dirinya di awal kariernya di Inggris. “Saya agak takut. Saya berharap pada awalnya wasit bisa sedikit memejamkan mata di sana-sini. Saya perlu belajar itu,” tambahnya.

Pengalamannya melatih di Arab Saudi membuat Jaissle terbiasa dengan ruang gerak yang luas di sisi lapangan. “Saya punya touchline yang panjang di Saudi Arabia, jadi saya pikir GPS saya akan cukup tinggi jika saya memakainya!” candanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia sadar betul energi berlebihnya di pinggir lapangan bisa menjadi perhatian tersendiri di kompetisi sekelas Premier League.

Karier Penuh Ambisi dari Hoffenheim hingga Newcastle

Karier bermain Matthias Jaissle sebenarnya berakhir lebih cepat dari yang diharapkan akibat cedera lutut serius di usia 25 tahun. Namun, hasratnya untuk menang tidak pernah padam dan justru menjadi modal utamanya sebagai pelatih. Chinedu Obasi, mantan rekan setimnya di Hoffenheim, menggambarkan Jaissle sebagai sosok yang selalu lapar akan kemenangan. “Matthias selalu sangat lapar. Dia punya gaya kepemimpinan, vokal, dan bergairah tentang permainan. Dia ingin menang,” kata Obasi.

Sifat intens inilah yang kini coba ia bawa ke Newcastle. Meski penampilannya di depan media terkesan kalem, para manajer Premier League akan berhadapan dengan sosok yang sangat berbeda di touchline. Sebelum menangani Newcastle, Jaissle sudah dikenal sebagai pelatih muda berbakat di RB Salzburg, klub yang menjadi batu loncatan kariernya sebelum pindah ke Al-Ahli di Arab Saudi.

Misi Mengembalikan St James’ Park sebagai Benteng

Pendahulu Jaissle, Eddie Howe, meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Howe mengakhiri puasa gelar Newcastle dengan memenangkan EFL Cup pada 2025 dan dua kali membawa tim ke Liga Champions. Ia juga membangun lingkungan di St James’ Park yang membuat pemain merasa aman untuk bermain dengan performa terbaik mereka, sekaligus menyatukan para pendukung sejak diangkat hampir lima tahun lalu.

Namun, benteng yang dulu kokoh itu mulai goyah di paruh kedua musim lalu. Newcastle finis di peringkat ke-12 Premier League dan kehilangan tujuh laga kandang di liga. Catatan buruk tim di laga tandang memang paling banyak disorot di musim terakhir Howe, tetapi performa di kandang juga ikut menurun drastis. Menjadikan St James’ Park sebagai tempat yang sulit bagi lawan lagi menjadi salah satu prioritas utama Jaissle.

Saat menjalani tur keliling stadion untuk pertama kalinya bersama stafnya, Jaissle mengaku merinding membayangkan atmosfer pertandingan di sana. “Kami hanya saling berpandangan dengan senyum lebar, merinding. Sungguh istimewa,” katanya. “Orang-orang yang memimpin tur memberi tahu saya bagaimana rasanya saat kerumunan penonton hadir.” Ia berharap gaya bermain yang ia terapkan—sepak bola intens, vertikal, agresif, dan menekan—bisa menciptakan sinergi besar antara pendukung dan tim.

Respons Pemain dan Fans Newcastle

Para pemain Newcastle mulai merasakan intensitas gaya melatih Jaissle setelah menjalani kamp pelatihan yang melelahkan di Spanyol pekan lalu. Kamp tersebut ditutup dengan kemenangan 2-1 melawan Valencia dalam laga uji coba. Kiper Lukas Hornicek menegaskan bahwa Newcastle ingin “menunjukkan kepada lawan bahwa mereka akan kesulitan melawan kami”, sementara bek Malick Thiaw menyebut intensitas latihan di bawah Jaissle “sangat tinggi”.

Adam Stoker, pemegang tiket musiman Newcastle, merasa klub masih membutuhkan tambahan pemain baru. Meski begitu, ia percaya gaya bermain Jaissle akan menjadi nilai tambah besar bagi tim. “Eddie terlihat sedikit lelah dan tidak seperti manajer yang sama seperti saat ia mulai. Sebagian energi itu hilang dan itu berhubungan dengan performa tim,” kata Stoker. Ia menilai ide-ide Jaissle sejalan dengan gaya Newcastle musim 2022-23 yang sangat menarik untuk ditonton.

Stoker juga menekankan bahwa gaya bermain menekan dan intensitas tinggi adalah sesuatu yang selalu didukung penuh oleh pendukung Newcastle. “Bermain di depan, sepak bola intensitas tinggi adalah sesuatu yang selalu didukung oleh penonton di Newcastle,” tambahnya. Ini menjadi sinyal positif bahwa Jaissle bisa cepat mendapatkan dukungan dari tribun St James’ Park.

Tantangan Berat Menanti di Laga Pembuka

Jaissle tidak punya banyak waktu untuk beristirahat sebelum Newcastle menghadapi Liverpool dalam laga pembuka musim pada 23 Agustus di Tyneside. Ia pun belum pernah merasakan atmosfer Premier League sebagai pelatih, sama seperti para pemain muda anyar yang direkrut klub pada musim panas ini. Situasi ini membawa banyak ketidakpastian.

Di musim panas ini, Newcastle juga kehilangan sejumlah pemain kunci yang meninggalkan “kekosongan” besar menurut pengakuan Jaissle sendiri:

  • Anthony Gordon — winger cepat andalan yang menjadi motor serangan.
  • Sandro Tonali — gelandang Italia yang menjadi pengatur ritme permainan.
  • Bruno Guimaraes — gelandang Brasil yang selama ini menjadi jantung lini tengah.

Meski demikian, Jaissle justru melihat situasi ini sebagai peluang, bukan ancaman. “Kami ambisius. Itu yang terpenting. Itulah alasan saya memutuskan datang ke sini, tetapi ini tidak akan terjadi dalam semalam, terutama ketika Anda menghadapi fase transisi sebesar ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa klub butuh tujuan yang jelas serta sinergi antara manajemen, pemain, fans, dan staf untuk membawa Newcastle menuju kesuksesan.

Jaissle optimistis bahwa Newcastle akan menulis kisah sukses baru, asalkan semua pihak bersabar dan bersama-sama melewati masa transisi ini. “Jika Anda memiliki sinergi dengan fans, pemain, dan staf untuk sampai ke sana, saya yakin ini akan menjadi kisah yang sukses. Tetapi kami butuh waktu sekarang,” tutupnya. Dengan gaya emosional yang tetap ia pertahankan, Jaissle siap memulai babak baru perjalanan Newcastle United di Premier League.