Harry Kane resmi menjadi pemenang Ballon d’Or asal Inggris kelima dalam sejarah, sekaligus mengakhiri penantian panjang 25 tahun sejak Michael Owen meraih trofi yang sama pada 2001. Gelar itu ia amankan setelah menjalani musim yang luar biasa bersama Bayern Munich, dengan torehan 61 gol dari 51 pertandingan di semua kompetisi. Capaian tersebut menempatkan kapten tim nasional Inggris itu sederet dengan nama-nama besar yang lebih dulu mengharumkan sepak bola Inggris di panggung penghargaan individu paling bergengsi.

Yang menarik, daftar itu ternyata sangat pendek. Selain Kane, hanya Kevin Keegan, Bobby Charlton, Stanley Matthews, dan Michael Owen yang pernah membawa pulang trofi tersebut. Sejumlah nama beken seperti Billy Wright, Bobby Moore, Gary Lineker, David Beckham, dan Frank Lampard harus puas finis sebagai runner-up, begitu pula Lucy Bronze pada 2019 dan Beth Mead pada 2022 di kategori putri. Karena itulah, setiap kali ada pemain Inggris yang berhasil menang, perdebatan soal siapa yang paling hebat selalu layak dibuka kembali.
Fakta Utama: Musim Gemilang Kane Bareng Bayern
Dalam periode penilaian Ballon d’Or kali ini, yang dihitung sejak awal musim 2025-26 hingga berakhirnya Piala Dunia musim panas, Kane mencatat rekor gol terbanyak untuk klub dan negara di antara seluruh pemain di lima liga top Eropa. Angka itu disebut sebagai yang tertinggi sejak musim luar biasa Lionel Messi pada 2011-12. Bersama Bayern, ia mencetak 61 gol dari 51 penampilan, membantu klubnya meraih double domestik berupa gelar Bundesliga dan Piala Jerman.
Bukan hanya itu, penyerang berusia 33 tahun tersebut juga menjadi pemain tercepat yang menembus 100 gol di Bundesliga. Di level tim nasional, ia menyumbang 12 gol, dengan enam di antaranya lahir selama perjalanan Inggris ke semifinal Piala Dunia. Kombinasi performa klub dan negara inilah yang membuat namanya sulit digeser dari daftar kandidat teratas.
Ada pula catatan tambahan yang memperkuat posisinya. Sejak masa peminjaman awalnya di Leyton Orient dan Millwall, Kane memang terus berkembang hingga dianggap sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Produktivitasnya di Premier League bersama Tottenham Hotspur konsisten musim demi musim, dan perlahan ia menambahkan kemampuan memberi assist ke dalam paket permainannya. Di Munich, terutama pada musim lalu, semua kemampuan itu seolah mencapai level baru.
Kenapa Daftarnya Begitu Pendek: Sejarah Ballon d’Or
Untuk memahami mengapa hanya lima orang Inggris yang pernah menang, penting melihat bagaimana penghargaan ini berevolusi. Ketika pertama kali diberikan pada 1956 dengan nama European Footballer of the Year, trofi ini hanya diperuntukkan bagi pemain Eropa. Baru pada 1995 cakupannya diperluas, dan pada 2007 penghargaan ini benar-benar menjadi global dengan melibatkan pemain dari klub mana pun di seluruh dunia.
Artinya, para pemenang dari era awal bersaing dalam kolam kandidat yang jauh lebih sempit dibanding sekarang. Meski demikian, keterbatasan itu tidak mengurangi kualitas penampilan mereka. Setiap penerima trofi tetap tampil luar biasa dan berhasil menarik perhatian pemilih di seluruh Eropa, bahkan dunia.
Sejarah juga menunjukkan bahwa pesaing dari Inggris kerap berhenti di langkah terakhir. Nama-nama seperti Wright, Moore, Lineker, Beckham, dan Lampard menjadi bukti bahwa jarak antara juara dan runner-up kadang sangat tipis. Di sisi lain, dominasi pemain dari luar Eropa setelah 2007 membuat persaingan semakin berat, sehingga setiap kemenangan pemain Inggris menjadi momen yang benar-benar layak dikenang.
Peringkat 5: Michael Owen (Liverpool, 2001)
Ada cerita ringan soal Owen: ia sempat mengaku belum tahu apa itu Ballon d’Or ketika Gerard Houllier menelepon untuk memberi kabar bahwa dirinya menang. Namun, saat menerima trofi, pemain yang kala itu berusia 22 tahun tersebut sudah cukup belajar dan lancar menyebut daftar pemenang sebelumnya. Pada masanya, Owen adalah sosok yang meledak-ledak, dengan akselerasi tajam dan penyelesaian akhir yang dingin.
Tahun kemenangannya dipenuhi momen ikonik. Ia membantu Liverpool meraih treble, mengamankan Piala Liga lewat adu penalti, lalu mengalahkan Arsenal di final Piala FA. Dalam laga itu Owen mencetak dua gol di menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan, satu gol penyama berawal dari penyelesaian akrobatik di dalam kotak penalti, sementara gol kemenangan lahir dari serangan balik cepat setelah ia melewati Lee Dixon dan Tony Adams sebelum menaklukkan David Seaman.
Ia juga menyumbang dua assist saat Liverpool mengalahkan Alaves 5-4 lewat perpanjangan waktu di final Piala UEFA. Sebelumnya, di Stadio Olimpico, dua golnya ke gawang Roma menjadi penentu langkah The Reds di kompetisi tersebut. Owen menutup musim sebagai top skor Liverpool dengan 24 gol di semua kompetisi, dan penampilan paling ikoniknya tahun itu justru hadir bersama Inggris lewat hat-trick terkenal melawan Jerman di Munich. Cedera membuatnya tak bisa mempertahankan puncak performa lebih lama, dan hanya Ronaldo dari Brasil yang memenangi Ballon d’Or di usia lebih muda.
Peringkat 4: Stanley Matthews (Blackpool, 1956)
Sir Stanley Matthews adalah pemenang pertama sekaligus tertua dalam sejarah Ballon d’Or, yang saat itu ditentukan oleh pemilih dari 16 negara. Dua belas panelis memasukkan namanya ke dalam surat suara, dan enam di antaranya menempatkannya di posisi teratas, mengalahkan Alfredo di Stefano serta Raymond Kopa. Fakta sederhana itu sudah cukup menunjukkan betapa dihormatinya sosoknya.
Saat menerima penghargaan, Matthews berusia kurang dua bulan menuju 42 tahun. Ia mengantar Blackpool finis kedua di kasta teratas Inggris, di bawah Manchester United era Busby Babes. Meski begitu, pemilih kemungkinan besar juga terpengaruh oleh penampilannya di final Piala FA tiga tahun sebelumnya, ketika Blackpool menang 4-3 atas Bolton dalam laga yang dijuluki “Matthews Final” dan bahkan disiarkan di bioskop-bioskop.
Pada era ketika sepak bola diikuti lewat radio dan laporan koran, status legendaris Matthews menarik ribuan penonton ke stadion setiap kali Blackpool bertandang. Ia lahir di masa Perang Dunia I dan tetap bermain sembilan tahun setelah menerima penghargaan, pensiun pada usia 50. Julukan “The Wizard of the Dribble” melekat padanya karena kreativitasnya, dan ia dikenal disiplin menjaga pola makan, berpuasa, serta tidak mengonsumsi alkohol. Pendiri Ballon d’Or, Gabriel Hanot, bahkan menyebutnya sebagai Charlie Chaplin-nya sepak bola.
Peringkat 3: Harry Kane (Bayern Munich, 2026)
Kane baru saja mencatat salah satu musim individual paling sensasional yang pernah tercatat, dan sebagian orang mungkin berpendapat ia layak berada lebih tinggi. Namun, tiga nama di atasnya juga punya capaian yang sangat berat. Yang jelas, kombinasinya bersama Bayern tahun ini sulit dibandingkan: double domestik, rekor gol, dan kontribusi besar bagi tim nasional di Piala Dunia.
Satu-satunya bantahan yang sering muncul adalah bahwa Kane bermain untuk Bayern yang mendominasi Bundesliga dan selalu difavoritkan juara. Argumen penyeimbangnya, pemain 33 tahun itu telah mendefinisikan ulang peran penyerang tengah. Kemampuan mengumpan jarak jauh dan permainan hold-up-nya membuatnya berfungsi sebagai playmaker serba bisa, bukan sekadar penyelesai peluang di kotak penalti.
Perjalanan panjangnya dari masa pinjaman di Leyton Orient dan Millwall membuat perkembangan ini terasa masuk akal. Ia tidak meledak begitu saja, melainkan menambah satu per satu elemen permainan hingga menjadi salah satu pemain terbaik dalam sejarah Inggris. Di Munich, terutama pada musim lalu, versi terbaik Kane akhirnya terlihat utuh.
Peringkat 2: Bobby Charlton (Manchester United, 1966)
Pertanyaan yang selalu menggantung pada pemenang era sebelum 1995 adalah apakah ada kandidat lebih layak di luar kriteria saat itu. Sebagian mungkin berpendapat Igor Belanov sedikit tersaingi Diego Maradona pada 1986. Namun, dua dekade sebelumnya, hampir tidak ada yang bisa membantah kredibilitas pria yang menjadi pionir satu-satunya gelar Piala Dunia milik Inggris, Bobby Charlton.
Penyintas tragedi Udara Munich 1958 itu kemudian membawa Manchester United menjuarai Piala FA 1963 dan liga dua tahun berselang. Pada 1966, di usia 28 tahun, Charlton berada di puncak karier dengan 16 gol liga dari lini tengah, sekaligus menjadi poros tim yang mencapai semifinal Piala Eropa. Alf Ramsey pun memilih membangun skuad Inggris di sekitar dirinya untuk Piala Dunia pertama yang digelar di tanah air mereka.
Setelah bermain imbang tanpa gol dengan Uruguay di laga pembuka, Charlton memberi momentum bagi Inggris lewat sprint dari garis tengah yang diakhiri tembakan khasnya dari jarak jauh ke sudut gawang Wembley. Ia mencetak dua gol saat Inggris menyingkirkan Portugal milik Eusebio di semifinal, lalu terlibat duel dengan Franz Beckenbauer di final yang dimenangkan Inggris 4-2 lewat perpanjangan waktu. Eusebio finis kedua dan Beckenbauer ketiga dalam voting tahun itu, sementara Charlton menunjukkan ketajaman, ketenangan, dan sikap tanpa ego.
Peringkat 1: Kevin Keegan (Hamburg, 1978 dan 1979)
Tidak ada yang bisa menandingi catatan Keegan sebagai satu-satunya pemain Inggris yang memenangi Ballon d’Or dua kali. Pada 1977 ia mencetak 20 gol saat Liverpool menjuarai Piala Eropa dan Divisi Pertama, hanya kurang sedikit untuk meraih treble setelah kalah di final Piala FA dari Manchester United. Tahun itu ia juga finis sebagai runner-up di bawah bintang Denmark milik Borussia Monchengladbach, Allan Simonsen.
Keegan menyusul Simonsen ke Jerman dengan bergabung ke Hamburg, pemegang Piala Winners, meski mantan klubnya menghajar Hamburg di Piala Super Eropa. Awalnya ia kesulitan beradaptasi, diperberat hukuman larangan bermain delapan pekan akibat memukul seseorang dalam laga persahabatan selama jeda musim dingin. Namun, pada musim berikutnya ia melesat, membawa Hamburg menjuarai Bundesliga untuk pertama kalinya, sekaligus tampil impresif bersama Inggris dengan mencetak gol ke gawang Brasil dan dua gol ke gawang Denmark pada September.
Forma tepat waktu itu terbayar. Keegan sebenarnya layak menang setahun sebelumnya, dan hal itu tampaknya masih membekas di ingatan pemilih: ia muncul di 22 dari 26 surat suara dan menjadi pilihan utama di sembilan di antaranya, unggul atas bintang Austria milik Barcelona, Hans Krankl. Setelah Natal ia terus bersinar dan menutup musim dengan 17 gol liga, termasuk 11 gol dalam 12 pertandingan di fase akhir. Pada 25 Desember 1979 ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Eropa untuk kedua kalinya, kali ini dipilih 18 dari 26 pemilih. Hamburg akhirnya kalah di final Piala Eropa dari Nottingham Forest di Bernabeu, laga terakhir Keegan sebelum pindah ke Southampton.
Apa Arti Daftar Ini bagi Sepak Bola Inggris
Membandingkan kelima nama ini bukan perkara mudah karena mereka hidup di era yang sangat berbeda. Matthews bersinar ketika informasi masih bergerak lewat radio dan koran, Charlton tampil di masa ketika pemilih hanya melihat pemain Eropa, sementara Kane berkompetisi di zaman ketika penghargaan ini sudah benar-benar global. Perbedaan konteks itu membuat peringkat semacam ini selalu bisa diperdebatkan.
Meski begitu, ada benang merah yang menghubungkan mereka: konsistensi di level tertinggi dan kemampuan mengangkat tim, bukan hanya menumpuk statistik pribadi. Owen membawa Liverpool meraih treble, Charlton menjadi jantung tim juara dunia, Matthews mengubah cara orang menonton sepak bola, Keegan dua kali menjadi yang terbaik di benua, dan Kane kini menutup penantian seperempat abad. Kemenangan Kane sekaligus menepis anggapan bahwa pemain Inggris sulit bersaing di level individu paling atas.
Bagi generasi muda di Inggris, daftar ini juga menjadi penanda bahwa peluang itu nyata. Sebelum Kane, jarak 25 tahun terasa seperti tembok yang sulit ditembus, terutama karena persaingan kini mencakup pemain dari seluruh dunia. Kini tembok itu sudah runtuh, dan ekspektasi terhadap generasi berikutnya otomatis ikut naik.
Konteks Lebih Luas: Penghargaan yang Terus Berubah
Ballon d’Or hari ini jauh berbeda dari trofi yang diterima Matthews di Balai Kota Blackpool pada 1956. Dari penghargaan yang hanya melibatkan pemain Eropa, kini ia menjadi salah satu ajang paling bergengsi di dunia sepak bola, dengan cakupan klub dan pemain dari berbagai benua. Perubahan ini membuat setiap kemenangan pemain Inggris terasa lebih berat, karena harus diraih di tengah persaingan yang jauh lebih ketat.
Perkembangan lain yang layak dicatat adalah kehadiran kategori putri, di mana Lucy Bronze pada 2019 dan Beth Mead pada 2022 sempat finis sebagai runner-up. Fakta bahwa Inggris rutin muncul di posisi teratas, baik di kategori putra maupun putri, menunjukkan kedalaman talenta yang terus bertambah. Dengan ekosistem pembinaan yang makin matang, bukan mustahil daftar lima nama ini akan bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk saat ini, pertanyaan yang tersisa hanyalah bagaimana karier Kane akan berlanjut setelah trofi pertamanya. Sejarah menunjukkan bahwa pemenang Ballon d’Or Inggris berikutnya selalu datang dengan kejutan, baik dari segi usia maupun latar belakang klub.
Kesimpulan
Lima nama ini merangkum perjalanan panjang sepak bola Inggris di panggung penghargaan individu: dari Matthews yang dihormati karena kreativitasnya, Charlton yang mengangkat trofi dunia, Keegan yang dua kali menjadi terbaik di Eropa, Owen yang meledak di usia muda, hingga Kane yang mengakhiri penantian 25 tahun. Masing-masing punya momen ikonik dan alasan kuat untuk disebut yang terhebat pada masanya.
Yang paling menarik, kemenangan Kane justru membuka diskusi baru, bukan menutupnya. Dengan Ballon d’Or yang kini benar-benar global dan persaingan yang makin ketat, prestasi kelima pemain ini akan terus dikenang sebagai pencapaian langka yang tidak mudah diulang.