Ribuan pendukung Manchester United menggelar aksi protes di dalam maupun di luar Old Trafford menjelang laga derby melawan Manchester City pada Minggu. Massa yang membawa flare memenuhi area sekitar stadion sebagai bentuk penolakan terhadap kepemilikan klub, lalu bergerak masuk melalui terowongan Munich di bawah stadion. Aksi ini menjadi salah satu unjuk rasa terbesar suporter United dalam beberapa musim terakhir.
Protes digalang oleh kelompok suporter bernama The 1958 Group, yang menyerukan kepada para pendukung untuk hadir lebih awal sebelum pertandingan dimulai. Sasarannya bukan hanya keluarga Glazer sebagai pemilik mayoritas, tetapi juga Sir Jim Ratcliffe sebagai pemilik minoritas yang dianggap ikut bertanggung jawab atas situasi klub saat ini. Isu utama yang diangkat adalah kebijakan tiket dan penanganan klub terhadap pendukung yang dituduh melakukan penjualan tiket secara ilegal.

Banner Tunggal dan Pesan Keras dari Tribun Old Trafford
Di dalam stadion, kelompok suporter The Red Army memilih pendekatan berbeda. Alih-alih membawa spanduk-spanduk seperti biasa, mereka hanya menampilkan satu banner di atas terowongan pemain dengan tulisan: “The way you treat us is a disgrace” atau cara klub memperlakukan mereka dianggap memalukan. Keputusan tersebut membuat satu-satunya spanduk yang terpasang di stadion adalah yang dipasang oleh pihak klub sendiri.
Pilihan itu dinilai menunjukkan kuatnya perasaan para pendukung terhadap situasi peraturan tiket di klub. Klub pekan ini memang merilis data terkait investigasi mereka terhadap praktik percaloan tiket. Dalam data tersebut, United mengonfirmasi bahwa 685 akun penggemar diblokir, sementara 464 akun lainnya dikenai sanksi atau peringatan.
Meski demikian, United juga menyatakan bahwa 468 kasus diselesaikan setelah para pendukung memberikan informasi yang relevan. Menurut klub, tidak ada tindakan lanjutan yang diambil karena keterangan yang diberikan sudah menjelaskan secara memuaskan aktivitas yang teridentifikasi dalam penyelidikan tersebut.
Keluhan soal Tiket dan Hilangnya Budaya Suporter
The Red Army menegaskan bahwa mereka bukan kelompok protes, melainkan kelompok yang fokus pada atmosfer pertandingan. Kendati begitu, mereka menyatakan tidak pernah menghindar untuk menyampaikan sikap ketika diam justru dianggap merugikan kepentingan para pendukung yang rutin datang ke stadion. Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa bila dukungan generasi pendukung laga tandang dan kandang tidak diberi suara yang benar-benar didengar, sedikit budaya suporter yang tersisa akan hilang selamanya.
Dalam aksi tersebut, banyak nyanyian yang secara langsung menyasar Ratcliffe. Hal itu memperlihatkan bahwa sebagian pendukung menilai pemilik minoritas itu memikul tanggung jawab sebesar keluarga Glazer atas kondisi yang terjadi sekarang. Keluarga Glazer sendiri belum pernah dimaafkan sebagian suporter karena membebani klub dengan utang melalui pembelian dengan skema leveraged buyout pada 2005.
Ratcliffe dilaporkan hadir di Old Trafford untuk menyaksikan laga Minggu tersebut. Kehadirannya di tengah aksi protes menjadi sorotan, karena ia menjadi simbol harapan baru sekaligus sasaran kritik dalam waktu yang bersamaan.
Suara The 1958 Group dan Tudingan Tanpa Bukti
Steve Compton dari The 1958 Group menegaskan bahwa tuntutan agar Glazer keluar tidak akan pernah berubah. Menurutnya, kedatangan Ratcliffe sempat memberi secercah harapan, tetapi gagasan untuk mengembalikan nuansa Manchester dalam Manchester United dinilai jauh dari kenyataan yang dirasakan suporter saat ini.
Compton menjelaskan bahwa aksi hari itu berfokus pada perlakuan terhadap pendukung yang sudah bertahun-tahun datang ke stadion, termasuk kekacauan seputar tiket musiman dan sejumlah orang yang diblokir. Ia menyebut klub telah mengeluarkan banyak pernyataan, tetapi satu hal yang belum dilakukan adalah meminta maaf kepada siapa pun. Menurutnya, mereka menerima ratusan pesan langsung dari suporter, dan persoalan ini bahkan sampai berdampak pada kesehatan orang-orang yang terdampak.
Ia menggambarkan para korban sebagai orang biasa dari kalangan pekerja yang tiba-tiba menerima surel pemberitahuan bahwa tiket mereka ditangguhkan tanpa bukti yang jelas. Compton mempertanyakan bagaimana seseorang bisa membela diri dari tuduhan yang bahkan tidak diketahui secara rinci apa isinya.
Bayang-bayang Utang dan Stadion Baru
Posisi keuangan klub menjadi bagian penting dari latar belakang protes ini. Kondisi finansial Manchester United akan diungkap pada 23 September mendatang, ketika klub menerbitkan laporan keuangan tahunan hingga 30 Juni 2026. Publikasi itu akan menjadi acuan untuk menilai seberapa besar tekanan yang sedang dihadapi klub.
Jika menghitung biaya transfer yang belum dibayarkan, utang United disebut melampaui £1 miliar. Sampai saat ini, para pejabat klub belum menjelaskan bagaimana mereka berencana membiayai pembangunan stadion baru yang diperkirakan menelan biaya jauh di atas £2 miliar. Ketidakjelasan tersebut menambah kekhawatiran suporter bahwa beban finansial akan kembali berimbas pada mereka, salah satunya lewat kebijakan harga dan akses tiket.
Dalam konteks yang lebih luas, protes di Old Trafford memperlihatkan bahwa persoalan kepemilikan klub tidak bisa dipisahkan dari kebijakan sehari-hari yang dirasakan pendukung. Ketegangan soal tiket, pemblokiran akun, dan rencana stadion baru menjadi satu rangkaian keluhan yang bermuara pada pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang dilayani oleh klub sebesar Manchester United.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya
Aksi sebelum derby ini menempatkan hubungan antara manajemen dan kelompok suporter pada titik yang cukup rawan. Kelompok seperti The 1958 Group dan The Red Army memiliki basis massa yang mampu menggerakkan ribuan orang dalam waktu singkat, sehingga tekanan diperkirakan tidak akan berhenti hanya pada satu pertandingan. Selama tuntutan utama soal transparansi tiket dan keterlibatan suporter dalam pengambilan keputusan belum dijawab, potensi protes lanjutan tetap terbuka.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada laporan keuangan 23 September dan bagaimana klub menjelaskan strategi pembiayaan stadion baru di tengah utang yang sudah menumpuk. Bagi para pendukung, dua hal itu akan menjadi indikator apakah keluhan mereka benar-benar dipertimbangkan atau justru diabaikan. Sementara itu, suasana di tribun Old Trafford akan terus menjadi cermin seberapa dalam kekecewaan yang tersimpan di kalangan pendukung setia klub.
Pada akhirnya, protes menjelang derby Manchester ini bukan sekadar unjuk rasa sesaat. Ia merangkum perdebatan panjang tentang kepemilikan, harga tiket, dan identitas budaya suporter yang dianggap tergerus oleh kepentingan komersial. Selama jarak antara manajemen dan pendukung tidak dijembatani, Old Trafford akan tetap menjadi panggung bagi dua hal sekaligus: dukungan yang membara dan kritik yang tak kunjung surut.