Peringatan Satu Tahun Kepergian Diogo Jota
Sehari ini tepat setahun lalu, dunia sepak bola dikejutkan oleh kabar duka meninggalnya penyerang Liverpool, Diogo Jota, dan adiknya, Andre Silva, dalam kecelakaan mobil. Pada usia 28 tahun, Jota baru saja meraih gelar Premier League bersama The Reds hanya beberapa minggu sebelum tragedi itu terjadi. Ia juga menikahi pasangan lamanya, Rute Cardoso, 11 hari sebelumnya. Tribute Diogo Jota dari rekan setim, pelatih, dan mantan klub terus mengalir, mengenang bukan hanya prestasinya di lapangan, tetapi juga kepribadiannya yang hangat dan rendah hati.
Jota mencetak 65 gol dalam 182 penampilan untuk Liverpool, turut membawa klub memenangkan Piala FA dan Piala Liga pada 2022, serta gelar liga musim 2024–25. Kariernya dimulai di Pacos de Ferreira, Portugal, sebelum pindah ke Atletico Madrid pada 2016, meski tidak pernah bermain karena dipinjamkan ke Porto dan kemudian Wolves. Setelah mempermanenkan kontrak di Wolves pada 2018, ia mencetak 44 gol dalam 131 pertandingan. Bersama tim nasional Portugal, Jota mengoleksi 49 caps dan 14 gol, dengan laga terakhirnya pada 8 Juni 2025 saat menang adu penalti melawan Spanyol di final Nations League.

Kenangan dari Caoimhin Kelleher: Teman Setim yang Unik
Mantan kiper Liverpool, Caoimhin Kelleher, yang bermain bersama Jota dari 2020 hingga 2025, mengenang sosok Jota sebagai pribadi yang langka. “Saya sering memikirkan Jots. Dia pria yang luar biasa, benar-benar unik. Ia selalu menjadi dirinya sendiri dan tidak peduli bahwa ia adalah pesepakbola super terkenal. Ia melihat dirinya sebagai orang biasa dan berpegang pada prinsipnya. Itu sebabnya ia akrab dengan semua orang di klub,” kenang Kelleher kepada BBC Sport.
Pertemuan pertama mereka terjadi di pusat latihan lama Melwood saat pandemi, ketika para pemain dipisah dalam kelompok kecil berlima. Persahabatan mereka berkembang, terutama di luar lapangan. Jota ternyata menyukai olahraga yang tidak lazim bagi pemain Portugal, seperti pacuan kuda, dart, dan snooker – hal-hal khas Inggris dan Irlandia. Kelleher dan Andy Robertson mengatur perjalanan ke Cheltenham untuk pacuan kuda, dan Jota bersikeras ikut. “Dia memakai topi Peaky Blinders, setelan jas tiga potong lengkap, bahkan jam saku. Sungguh kenangan indah,” kata Kelleher.
Kelleher juga mengingat keanehan Jota yang selalu cedera aneh karena semangat kompetitifnya yang tinggi. Dalam tur bersama Liverpool, Jota membawa koper yang lebih besar agar muat semua perlengkapan gamingnya, hingga akhirnya didenda. Pertengkaran satu jam soal denda itu membuat seluruh skuat tertawa, terutama karena Jota terus menyebut ‘sweet case’ alih-alih suitcase. “Saya sangat bersyukur bisa menghadiri pernikahannya seminggu sebelum ia wafat. Itu kenangan berharga yang kusimpan,” tambah Kelleher.
Pesan dari Arne Slot: Tim di Atas Segalanya
Mantan pelatih Liverpool, Arne Slot, yang meraih Premier League bersama Jota, mengungkapkan kesan pertamanya saat tur Amerika. “Diogo bukan tipe pemain yang hanya berteman dengan dua atau tiga orang. Ia akrab dengan semua orang, baik rekan setim maupun staf. Ia selalu punya waktu untuk orang lain dan membuat semua orang merasa dihargai,” ujar Slot.
Slot menekankan bahwa Jota selalu mengutamakan tim. “Setelah kehilangannya, saya bilang pada pemain: cara terbaik menghormati Diogo adalah dengan berusaha menjadi sedikit seperti dirinya. Orang mungkin mengira gol ke gawang Everton adalah kenangan terbaik saya, tapi yang pertama terlintas justru foto yang ia pilih setelah kami menjuarai Premier League. Dari sekian banyak foto yang ada, ia memilih foto seluruh tim dan staf di depan Kop sambil menyanyikan You’ll Never Walk Alone. Itulah Diogo – selalu mendahulukan tim,” kenang Slot.
Nuno Espirito Santo: Pemuda Istimewa yang Rendah Hati
Nuno Espirito Santo, yang meminjamkan Jota ke Wolves lalu mempermanenkannya, menyebut Jota sebagai pemuda yang hangat, rendah hati, dan bertekad membalas kepercayaan. “Seperti pemain lain, awalnya ia kesulitan beradaptasi di Championship. Tapi justru tantangan itu membentuknya. Ia tidak pernah menyerah, tidak pernah menundukkan kepala saat hasil tidak sesuai. Semua orang mencintai Diogo, benar-benar semua orang,” kata Nuno.
Bahkan sekarang, kata Nuno, sulit mengingat Jota tanpa rasa sedih. “Dia adalah pemuda luar biasa, dan kami semua sangat merindukannya.”
Conor Coady: Rekan Setim yang Menginspirasi
Bek Wolves saat itu, Conor Coady, yang bersama Jota meraih gelar Championship 2018, mengingat betapa besarnya dampak Jota di ruang ganti. “Kenangan terbesar bukanlah kemenangan atau gol, melainkan persahabatan dan kerendahan hatinya. Dia adalah pemain tim terhebat yang pernah saya lihat. Setiap hari ia menunjukkan sifat tanpa pamrih,” ujar Coady.
Coady menceritakan bagaimana Jota dan pemain Portugal lainnya menciptakan budaya baru di Wolves. “Mereka tidak hanya bergaul dengan sesama pemain asing, tapi ikut serta dalam semua kegiatan. Diogo adalah binatang yang berbeda – ia sangat kompetitif, bahkan dalam head tennis.” Salah satu kenangan favorit Coady adalah gol Jota di perempat final Piala FA melawan Manchester United, di mana ia berlari dari garis tengah, menepis bek, lalu menembak dengan kaki kiri ke tiang dekat. “Gol itu hanya bisa diciptakan oleh Diogo Jota. Saya sangat bangga saat ia pindah ke Liverpool. Kesempatan sebesar itu tidak boleh dilewatkan,” kata Coady.
Paulo Goncalves: Awal Mula di Pacos de Ferreira
Paulo Goncalves, sekretaris teknis klub masa kecil Jota, Pacos de Ferreira, mengenang debut profesional Jota pada usia 17 tahun di Piala Portugal. “Ia langsung mencetak gol dan menjadi pemain terbaik. Setelah gol, ia berlari ke tribun untuk memeluk ibunya yang menangis haru. Keluarga selalu menjadi pilar penting dalam kariernya,” kenang Goncalves.
Menariknya, ketika klub menawarkan rumah untuk tinggal sendiri, Jota menolak dan memilih tetap tinggal bersama rekan-rekan akademinya. Proses pendaftarannya ke tim utama sempat terhambat karena pemeriksaan jantung tambahan, namun berhasil pada menit-menit akhir. “Sejak awal, penggemar muda mengidolakannya. Ia selalu bersedia hadir dalam kegiatan klub dan bermain sepak bola dengan anak-anak sekolah. Ia menjawab pertanyaan mereka dengan antusias dan menandatangani tanda tangan dengan senang hati,” tambah Goncalves.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Pesepakbola
Diogo Jota mungkin telah tiada, tetapi kenangan akan kehangatan, kerendahan hati, dan semangat timnya tetap hidup di hati setiap orang yang pernah bekerja dengannya. Dari denda koper lucu hingga gol-gol spektakuler, dari kecintaannya pada dart hingga kesetiaannya pada keluarga, ia meninggalkan warisan yang jauh melampaui statistik. Tribute Diogo Jota ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia sepak bola, karakter sejati lebih berharga daripada trofi. Selamat jalan, Diogo. Anda tidak akan pernah berjalan sendirian.