Presiden FIFA Gianni Infantino memanggil para pemimpin senior badan sepak bola dunia untuk menghadiri rapat eksekutif di Maroko pada Rabu (8 Juni), di tengah kritik yang kian menguat terhadap rencananya menjual operasi komersial dan penyelenggaraan event FIFA. Pertemuan yang digelar di Rabat itu diambil setelah Infantino menghabiskan sepekan terakhir di negara Afrika Utara tersebut untuk mencari jalan keluar dari kontroversi yang menyeruak. Kritik terhadap Gianni Infantino kali ini datang dari sejumlah petinggi internal FIFA, termasuk nama-nama besar seperti Arsene Wenger dan Mattias Grafstrom.

Rencana yang disebut FIFA Forward Enterprise itu memicu reaksi beruntun dari dalam organisasi. Direktur Pengembangan Sepak Bola Global FIFA Arsene Wenger, Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom, dan Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania Pangeran Ali secara terbuka menyatakan penolakan mereka. Langkah Infantino itu dinilai sejumlah pihak dapat mengancam independensi FIFA serta menggadaikan masa depan sepak bola dunia.
Kritik Gianni Infantino Memuncak, Rapat Eksekutif Digelar di Rabat
Infantino mengundang para pemimpin senior FIFA untuk bertemu di Rabat pada Rabu (8 Juni), sehari setelah ia kembali menjadi sasaran kecaman keras atas rencana FIFA Forward Enterprise. Rencana ini pada dasarnya menjual operasi komersial FIFA serta hak penyelenggaraan turnamen besar kepada pihak eksternal. Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya mendatangkan pemasukan besar, tetapi justru dianggap berisiko tinggi bagi masa depan FIFA.
Sejumlah petinggi FIFA telah angkat suara menolak rencana tersebut. Berikut posisi masing-masing tokoh yang menjadi sorotan:
- Arsene Wenger: menuntut proyek ditarik kembali dan mendesak transparansi serta integritas FIFA.
- Mattias Grafstrom: menyebut pekan terakhir sebagai rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan tercela.
- Pangeran Ali: menuduh FIFA melakukan pemerasan terkait hadiah uang yang belum dibayarkan.
Arsene Wenger: Proyek FIFA Forward Enterprise Harus Ditarik Kembali
Wenger, yang menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA sejak 2019, menjadi salah satu suara paling vokal yang menolak rencana tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui FIFA, pelatih asal Prancis itu menegaskan bahwa proyek ini sangat wajib untuk ditarik kembali. Ia juga mengaku tidak dilibatkan dalam penyusunan rencana strategis tersebut dan baru mengetahuinya dari laporan media.
“Peristiwa terakhir di FIFA membutuhkan kejelasan dari pihak saya,” demikian pernyataan Wenger. “Saya tidak terlibat dalam rencana strategis ini dan pertama kali mengetahui proyek ini melalui laporan media. Keputusan untuk menarik proyek ini sangatlah diperlukan dan tidak bisa ditawar, karena saya sangat percaya pada FIFA yang independen yang melayani sepak bola kita dengan komitmen, transparansi, dan integritas.”
Pernyataan Wenger menjadi sorotan karena ia sebelumnya mendukung usulan Infantino untuk menggelar Piala Dunia putra setiap dua tahun sekali. Namun kali ini, mantan manajer Arsenal itu memilih bersikap kritis dan mendesak FIFA untuk menjunjung transparansi dan integritas. Kritik yang datang dari tokoh sekaliber Wenger memperkuat sinyal bahwa rencana tersebut tidak mendapat tempat di internal FIFA.
Carlos Cordeiro Mundur dan Ancaman Hukum UEFA
Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global dan tata kelola, menjadi satu-satunya pejabat FIFA yang memilih mengundurkan diri terkait skandal ini. Ia menyebut proposal tersebut sebagai “kesepakatan yang buruk bagi sepak bola” yang akan “menggadaikan masa depan sepak bola”. Pengunduran diri ini mempertegas bahwa penolakan terhadap FIFA Forward Enterprise tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lingkaran dalam kekuasaan Infantino.
Tekanan terhadap FIFA juga datang dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu mengirimkan surat permintaan pemeliharaan dokumen kepada FIFA yang berisi ancaman tindakan hukum. Surat tersebut menyebut 18 pejabat FIFA, termasuk Wenger, sebagai pihak yang namanya tercantum dalam dokumen itu.
Grafstrom Sebut Pekan Terakhir “Menyedihkan dan Tercela”
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom, yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Infantino, ikut menyuarakan kritik melalui memo internal kepada staf FIFA. Ia menyebut pekan terakhir sebagai “rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan tercela” yang akhirnya berakhir dengan ditinggalkannya proyek tersebut secara permanen. Meskipun demikian, Grafstrom meminta seluruh staf untuk tetap fokus pada misi melayani sepak bola dan 211 asosiasi anggota FIFA.
Grafstrom bergabung dengan tim Infantino sejak 2016 dan diangkat menjadi sekretaris jenderal pada 2024. Dalam memo itu, ia menulis bahwa “individu, momen tidak stabil, dan episode yang tidak menyenangkan datang dan pergi”, tetapi institusi dan misinya terhadap sepak bola dunia harus terus berjalan. Ia juga meyakinkan staf bahwa mereka akan dibela dan dilindungi dari gejolak politik yang tengah terjadi.
Pangeran Ali: “Masalah Sebenarnya Ada pada Kepemimpinan”
Pangeran Ali dari Yordania melontarkan tuduhan yang lebih tajam. Dalam unggahan di platform X, ia menuduh FIFA menahan hadiah uang yang seharusnya diterima Yordania setelah menjadi runner-up Piala Arab FIFA pada Desember. Menurutnya, FIFA secara lisan menyampaikan selama Piala Dunia bahwa dukungan untuk pencalonan kembali Infantino akan membantu asosiasi Yordania keluar dari kesulitan keuangan.
“Jelas bahwa masalah sebenarnya ada pada kepemimpinan,” tulis Pangeran Ali. “Selama berbulan-bulan, FIFA menolak membantu kami, sampai akhirnya disampaikan secara lisan kepada saya bahwa jika saya mendukung Infantino, itu akan sangat membantu asosiasi kami.” Pangeran Ali menegaskan Yordania tidak akan tunduk pada apa yang ia sebut sebagai pemerasan.
Pangeran Ali bukan wajah baru dalam kontestasi kepemimpinan FIFA. Ia dua kali maju sebagai kandidat presiden FIFA, yaitu pada 2015 saat kalah dari Sepp Blatter dengan perolehan suara 133 berbanding 73, dan pada 2016 saat ia finis ketiga dalam pemilihan yang dimenangkan Infantino. Ia juga menuduh para pendukung timnas Yordania yang memiliki tiket Piala Dunia musim panas ini ditolak visa masuk Amerika Serikat untuk menyaksikan penampilan perdana Yordania di ajang tersebut. FIFA telah dimintai tanggapan resmi terkait berbagai tuduhan yang dilontarkan Pangeran Ali.
Dampak bagi Kepemimpinan Infantino dan Arah FIFA ke Depan
Gelombang kritik ini menempatkan Infantino dalam posisi yang sulit, terutama menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya. Sebelum final Piala Dunia, Infantino mengklaim telah menerima lebih dari 200 surat dukungan dari 211 asosiasi anggota untuk pencalonannya kembali. Namun, Yordania menjadi salah satu dari sedikit negara yang tidak mendukungnya, dan dugaan upaya pemerasan lewat hadiah uang justru memperkeruh suasana.
Surat peringatan hukum dari UEFA yang menyebut 18 pejabat FIFA, termasuk Wenger, menambah tekanan pada Infantino. Wenger sendiri menegaskan bahwa keputusan menarik proyek tersebut adalah langkah yang “sangat diperlukan dan tidak bisa ditawar” demi menjaga FIFA yang independen. Ia menekankan keyakinannya pada FIFA yang melayani sepak bola dengan komitmen, transparansi, dan integritas.
Rapat eksekutif di Rabat menjadi ujian besar bagi Infantino untuk menjembatani perbedaan di internal FIFA. Meskipun proyek FIFA Forward Enterprise telah ditinggalkan, luka akibat kritik dari para petinggi FIFA tidak serta-merta hilang. Ke depan, Infantino harus membuktikan bahwa FIFA dapat dikelola dengan transparan dan tidak mengabaikan suara asosiasi anggotanya.
Kritik Gianni Infantino yang meluas dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa tata kelola FIFA masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Dengan banyaknya tokoh penting yang angkat suara, tekanan terhadap presiden FIFA tersebut dipastikan tidak akan mereda dalam waktu dekat. Publik sepak bola dunia kini menanti langkah konkret FIFA dalam memulihkan kepercayaan terhadap lembaga tersebut.